Waingapu||Soepost.com,- Bertempat di Kantor Kementerian Agama Sumba Timur, Huki Yeanri Oktovianus Wila Hida, S.Pd.,MM, membuka dengan resmi Kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya bagi guru-guru agama dalam lingkungan Kementerian Agama Sumba Timur, Senin 20 April 2026.
Pada Kesempatan tersebut, Huki Yeanri Oktovianus Wila Hida mengatakan bahwa Penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal menjadi sangat relevan, karena nilai-nilai agama sejatinya selaras dengan nilai-nilai luhur budaya yang hidup di tengah masyarakat.
"Pendidikan karakter berbasis budaya lokal menjadi sangat relevan, karena nilai-nilai agama sejatinya selaras dengan nilai-nilai luhur budaya yang hidup di tengah masyarakat". Ucap Huki
Lanjutnya," Kearifan lokal mengajarkan tentang hormat kepada orang tua, kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan, serta harmoni dengan sesama dan alam yang semuanya sejalan dengan ajaran agama". Tegas Kemenag.
Oleh karena itu, melalui kegiatan ini Huki Yeanri Oktovianus Wila Hida berharap agar Guru agama mampu mengintegrasikan nilai-nilai ajaran agama dengan budaya lokal dalam proses pembelajaran.
"Lewat kegiatan ini, saya berharap Guru agama mampu mengintegrasikan nilai-nilai ajaran agama dengan budaya lokal dalam proses pembelajaran",
"Selain itu, Guru Agama mampu menghadirkan metode pembelajaran yang kontekstual, menyentuh hati, dan membentuk karakter peserta didik secara nyata, serta menjadi teladan hidup yang mencerminkan nilai-nilai keimanan, keteladanan, dan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari." Ungkap Huki Yeanri Oktovianus Wila Hida
Masih menurut Huki Yeanri Oktovianus Wila Hida, "Kita menyadari bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus dihidupkan dan dicontohkan. Di sinilah peran guru agama menjadi kunci utama sebagai figur yang digugu dan ditiru",
"Semoga dengan kegiatan ini, membawa manfaat dan memperkuat komitmen dalam mendidik generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berakar kuat pada budaya bangsa.",
"Guru agama memiliki peran yang sangat strategis, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing akhlak, teladan moral, dan penjaga nilai-nilai spiritual dalam kehidupan peserta didik. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kehadiran guru agama menjadi semakin penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam iman, berakhlak mulia, dan memiliki kepekaan sosial." Pungkas Huki Yeanri Oktovianus Wila Hida
Dr. Harun Natonis, M.Si pada kesempatan pertama menyampaikan materi tentang pendidikan karakter adalah proses pembentukan nilai, sikap dan perilaku peserta didik.
"Pendidikan karakter adalah proses pembentukan nilai, sikap dan perilaku peserta didik. Tujuannya untuk membentuk pribadi yang mulai serta menanamkan nilai, moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari", Ucap Harun Natonis
Lanjut Harun, tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh.
"Tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh. Selain itu dapat membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa serta menumbuhkan tanggung jawab sosial dan ciptakan generasi yang berintegritas."Tegas Dr. Harun Y. Natonis.
Dr.Harun Y. Natonis menekankan peran guru sebagai teladan, membimbing dan mengarahkan siswa, menanamkan nilai melalui pelajaran serta melakukan evaluasi karakter terlebih nilai-nilai utama pendidikan karakter, religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas.",
"Evaluasi pendidikan karakter : Observasi perilaku siswa, penilaian sikap, refleksi dan jurnal siswa dan kerjasama dengan orang tua siswa. Keberhasilan itu membutuhkan kolaborasi semua pihak." Harap Dr. Harun Y. Natonis.
Sedangkan Dr. Jonathan Leo Bisa, M.Pd dalam materinya mengatakan tentang pendidikan karakter berbasis budaya lokal dan strategi integrasi budaya lokal dalam pendidikan agama.
"Pendidikan karakter berbasis budaya lokal dan strategi integrasi budaya lokal dalam pendidikan agama, krisis moral dan degradasi karakter generasi muda, ada juga pengaruh globalisasi terhadap nilai lokal serta pentingnya pendidikan berbasis berbudaya lokal", Ucapnya.
"Nilai budaya sebagai pembentukan karakter. Proses pembentukan nilai, moral dan akhlak itu harus tanamkan kebiasaan baik secara berkelanjutan serta melibatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik."
"Bicara dari sudut pandang budaya lokal, tak terlepas dari nilai, moral, adat dan tradisi masyarakat setempat. yang mengandung kearifan dan identitas daerah yang bersifat kontekstual dan diwariskan turun temurun." Jelas Dr. Jonathan.
Momentum itu juga, Dr. Umar Ali, M.Pd menyampaikan materi terkait nilai-nilai budaya Sumba Timur dalam pembelajaran. Sumba Timur sebagai nilai karakter, tentunya melakukan identifikasi nilai budaya Sumba Timur setelah itu menganalisis dan mengintegrasikan dalam pembelajaran serta merumuskan model implementasi akademik."Ujarnya.
Gambaran umum tentang Sumba Timur seperti, Tradisi Marapu, Pasola, Tenun Ikat, Struktur sosial Kabisu. Menjaga martabat Kabisu. Nilai ketangguhan, karakter tahan uji, mandiri dan pekerja keras serta disiplin dalam kehidupan, jelas Dr. Umar Ali.
Menurut Dr. Umar Ali bahwa budaya Sumba Timur itu memiliki kekayaan nilai karakter sehingga saat ini sangat relevan dengan pembelajaran modern saat sekarang. Karena memiliki integritas dan sistematis sehingga menghasilkan karakter kuat."Tegasnya.

