Menyalakan Literasi Sekolah Melalui Keteladanan Guru

Ket Foto : Lefinus Asbanu Saat Bersama Peserta Didik

Literasi merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas pendidikan dan peradaban bangsa. Namun, berbagai program literasi yang dicanangkan di sekolah sering kali belum memberikan dampak signifikan jika tidak disertai dengan keteladanan nyata. Dalam konteks ini, guru memegang peran sentral sebagai sosok yang mampu menyalakan literasi sekolah melalui contoh dan praktik sehari-hari.

Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, melainkan figur yang membentuk kebiasaan dan cara berpikir peserta didik. Apa yang dibaca guru, bagaimana ia berbicara, menulis, dan menyikapi informasi akan menjadi rujukan bagi siswa. Literasi, dengan demikian, tidak cukup diajarkan, tetapi harus diperagakan.

Keteladanan guru dalam literasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Membaca buku sebelum pelajaran dimulai, mengaitkan materi ajar dengan bacaan yang relevan, atau menulis catatan reflektif bersama siswa adalah praktik kecil yang berdampak besar. Ketika guru memperlihatkan bahwa membaca dan menulis adalah kebutuhan, bukan kewajiban, peserta didik akan menumbuhkan minat literasi secara alami.

Di era digital, peran guru sebagai teladan literasi semakin kompleks. Peserta didik hidup dalam banjir informasi, di mana kebenaran dan hoaks sering kali bercampur. Guru yang literat digital mampu membimbing siswa untuk berpikir kritis, memverifikasi sumber, serta menggunakan bahasa yang santun dan bertanggung jawab di ruang digital. Inilah bentuk literasi yang relevan dengan tantangan zaman.

Budaya literasi sekolah juga tumbuh melalui keterlibatan aktif guru dalam berbagai kegiatan. Program pojok baca, mading, jurnal harian, atau kelas menulis akan lebih bermakna jika guru terlibat langsung, memberi contoh, serta memberikan apresiasi terhadap karya siswa. Dari sinilah sekolah menjadi ruang yang hidup, di mana membaca dan menulis menjadi kebiasaan bersama.

Keteladanan literasi guru sejatinya adalah investasi jangka panjang. Dampaknya mungkin tidak terlihat seketika, tetapi perlahan membentuk generasi yang gemar belajar, berpikir kritis, dan memiliki kepekaan sosial. Guru yang konsisten membaca dan menulis sedang menanam benih peradaban melalui pendidikan.

Menyalakan literasi sekolah tidak memerlukan program yang rumit atau mahal. Ia membutuhkan guru-guru yang mau menjadi contoh. Sebab, literasi yang tumbuh dari keteladanan akan lebih kuat dibanding literasi yang hanya tertulis dalam kebijakan dan slogan.

#Lefinus Asbanu adalah jurnalis yang berfokus pada isu pendidikan dan literasi. Ia aktif sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten TTS, serta penggerak literasi daerah bersama Nyalanesia. Selain itu, ia kerap melakukan pendampingan literasi di sekolah-sekolah. Saat ini, Lefinus Asbanu juga menjabat sebagai Kepala Biro YASPENSI Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2020 soepost.com ™ Member Of Kupang Online Network ®