Penulis : Sifron Tenistuan, S.Pd. , Gr. (Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri Tumu)
Di banyak sekolah, masalah siswa bolos, alpa, atau tidak fokus di kelas sering disederhanakan sebagai persoalan “anak nakal” atau “kurang disiplin." Namun, pengalaman saya mengajar Bahasa Indonesia di kelas IX SMP Negeri Tumu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, menunjukkan bahwa fenomena ini jauh lebih kompleks.
Di sekolah kami, sebagian besar siswa justru menunjukkan potensi luar biasa. Mereka aktif dalam kegiatan olahraga, seni, pramuka, hingga lomba akademik. Prestasi di tingkat kecamatan dan kabupaten bukan hal asing. Artinya, secara umum iklim belajar sebenarnya hidup.
Namun di balik itu, ada sekelompok kecil siswa yang seakan “menghilang” dari kelas. Mereka tidak selalu benar-benar absen, tetapi bisa hadir secara fisik tanpa benar-benar terlibat dalam pembelajaran. Dalam satu semester terakhir, saya mengamati tiga gejala utama: Pertama, Ketidakhadiran tanpa keterangan (alpa), Kedua, Membolos pada jam-jam tertentu, terutama setelah istirahat, Ketiga, Disorientasi belajar, seperti melamun, tidak fokus, atau menggunakan gawai secara sembunyi.
Gejala ini bukan sekadar pelanggaran tata tertib. Ini adalah sinyal. Dan sering kali, itu adalah sinyal minta tolong.
Dampak yang Tidak Sederhana
Ketika siswa sering alpa atau bolos, mereka kehilangan mata rantai pembelajaran. Materi terputus, pemahaman dangkal, nilai menurun, dan kepercayaan diri ikut tergerus. Lebih dari itu, perilaku gaduh atau membangkang di kelas menciptakan efek domino: suasana belajar terganggu, guru mudah terpancing emosi, dan relasi guru dan siswa menjadi renggang.
Jika tidak ditangani dengan bijak, situasi ini bisa berubah menjadi lingkaran setan: siswa merasa gagal, kehilangan motivasi, makin sering menghindar, dan makin tertinggal.
Mengapa Pendekatan Hukuman Sering Gagal
Pendekatan disiplin berbasis hukuman memang terlihat tegas, tetapi pada beberapa siswa justru memperparah keadaan. Mereka merasa dihakimi, ditekan, dan tidak dipahami. Akibatnya, sekolah tidak lagi dilihat sebagai ruang aman, melainkan tempat yang harus dihindari.
Perilaku alpa, bolos, dan tidak fokus sering kali bukan akar masalah, melainkan gejala. Di baliknya bisa tersembunyi beberapa hal; Kesulitan memahami materi, Kejenuhan metode belajar yang monoton, Masalah keluarga, Kebutuhan akan perhatian dan pengakuan, dan Tekanan sosial dari teman sebaya.
Ketika seorang siswa “menghilang” dari kelas, bisa jadi ia sedang “hilang arah” dalam hidupnya.
Mendekat, Bukan Menekan
Saya mencoba pendekatan berbeda ; berbicara dengan mereka secara santai, di dalam maupun di luar kelas, tanpa nada menghakimi. Bukan langsung menanyakan pelanggaran, tetapi mendengarkan cerita mereka sebagai remaja yang sedang bertumbuh.
Hal kecil seperti pujian atas perubahan sekecil apa pun ternyata berdampak besar. Ketika seorang siswa yang biasanya ribut mulai duduk tenang selama 15 menit, itu saya apresiasi. Ketika yang sering alpa mulai hadir tiga hari berturut-turut, itu saya akui sebagai kemajuan.
Pendekatan ini menggeser relasi dari “guru vs siswa bermasalah” menjadi “orang dewasa yang peduli pada anak yang sedang berjuang”.
Hasilnya Tidak Instan, Tapi Nyata
Perubahan memang tidak drastis. Namun perlahan, beberapa siswa mulai Lebih nyaman berdiskusi di kelas, Tidak lagi menghindari guru, Menunjukkan kedekatan sosial yang lebih sehat, dan Lebih mau terlibat dalam pembelajaran. Mereka belum sepenuhnya berubah, tetapi arah perubahannya jelas.
Pelajaran bagi Kita Semua
Pengalaman ini menegaskan satu hal penting; siswa yang bermasalah sering kali bukan kekurangan aturan, tetapi kekurangan perhatian yang tepat.
Guru tetap perlu tegas. Disiplin tetap penting. Namun disiplin tanpa empati hanya melahirkan kepatuhan semu, bukan kesadaran.
Sistem penghargaan sederhana, pujian yang tulus, komunikasi yang manusiawi, serta kolaborasi dengan wali kelas, guru BK, dan orang tua dapat menjadi kunci untuk menarik kembali siswa yang “menghilang” itu.
Karena pada akhirnya, tugas pendidikan bukan hanya memastikan siswa hadir di kelas, tetapi memastikan mereka hadir sepenuhnya secara pikiran, perasaan, dan harapan akan masa depan.

