Terhadap informasi ini, Orang tua Anderias Afi, Bernadus Afi dan Etayana Mone saat ditemui dalam keadaan sakit mengakui bahwa tidak tau kalau anak mereka masuk dalam daftar penerima bantuan PIP.
"Setelah saya dan istri sakit, Anderias jadi tulang punggung keluarga. Hari ini, kami baru tau kalau Anderias dapat PIP. Tidak ada pemberitahuan dari pihak sekolah atau guru wali kelas yang bawa dokumen untuk kami tanda tangan, padahal dengan kondisi kami seperti sekarang kami sangat butuh bantuan tersebut.",
"Selama ini, selain Anderias kami hanya hidup dan berharap kiriman uang dari anak-anak di rantauan." Ungkap Etayana Mone
Anderias Afi juga menyampaikan bahwa dirinya pernah dapat bantuan PIP, Ini juga namun waktu itu di potong juga dari kepala sekolah ini sebesar tiga ratus ribu (300.000).
"Saya pernah dapat PIP, tapi waktu itu dipotong juga dari Kepala sekolah sebesar 300.000", Ucap Anderias Afi
Ditempat terpisah Toko pemuda Yunus benu, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian yang dialami Anderias Afi, dimana ayah kandungnya yang hanya terbaring sakit di tempat tidur dan ibunya yang buta tetapi masih mengalami perlakuan seperti ini.
"Saya sangat prihatin dengan orangtua dari adik anderias yang berada di tempat tidur saja sedangkan ibunya buta namun sangat disayangkan kepala sekola SD Negeri Bihati terkesan tidak punya hati dan tega sekali mengalihkan Dana PIP kepada orang yang mampu. Apakah dana ini datang untuk keluarga kepala sekola saja?" Kata Yunus Benu
Lanjutnya, "Dana PIP ini kepala sekolah tidak punya hak sedikit untuk mengatur, kepala sekolah hanya memberikan rekomendasi bukan membuat kesepakatan untuk melakukan pemotongan memalsukan dokumen dan melakukan penipuan dengan pegawai Bank Bri Unit Oinlasi,"Ungkap Yunus Benu
Sedangkan Kepala Sekolah SDN Bihati Petronela Satbanu saat di wawancarai menjelaskan bahwa dirinya mengambil kebijakan untuk mengganti nama Anderias Afi karena siswa tersebut malas ke sekolah.
"Saya ganti nama Anderias Afi dari daftar penerima bantuan PIP karena dia pemalas sekolah, pergantian tersebut juga tanpa sepengetahuan siapapun karena itu adalah rahasia saya sebagai kepala sekolah",
"Saya juga sebagai kepala sekolah tidak cari tau kondisi keluarga Anderias Afi seperti apa, sehingga dia jarang masuk sekolah. Sebagai kepala sekolah saya tidak mau pusing. Anderias mau sekolah atau tidak saya punya gaji tidak dipotong sepeser pun. Karena sekolah kami sekolah negeri jadi anak mau datang sekolah atau tidak, saya tidak pusing" Ucap Petronela Satbanu
Kespek juga mengatakan kalau anaknya 4 orang juga bekerja sebagai PNS dan dari peristiwa ini mereka mau tuntut nama baik.
Dalam pertemuan tersebut juga Kepala Sekolah mengakui bahwa kebijakan untuk memotong Dana PIP karena sebagai kepala sekolah dirinya diberikan hak untuk melakukan hal tersebut.
"Sebagai Kepala Sekolah saya punya hak untuk dana itu di potong, Pak mereka tidak usah tau karena hal itu rahasia kepala sekolah dan saya lakukan itu atas dasar kesepakatan bersama dengan orang tua siswa." Ucap Petronela Satbanu
Ditempat terpisah Regina Ato salah satu orang tua siswa, membantah pernyataan Kepsek kalau dalam pertemuan bersama orang tua penerima siswa ada kesempatan terkait pemotongan dana PIP.
"Waktu itu kami pertemuan tidak ada kesepakatan, kepala sekolah hanya omong untuk uang transportasi saja. Namun yang terjadi, anak saya mengatakan kalau kepala sekolah potong uang PIP dan saya hanya terima tiga ratus ribu rupiah." Tutur Regina Ato

