Sebelum Hari Esok Menjadi Kemarin

Ket Foto : Lenzho Saat Bersama Anak-anak Di SMA Negeri Matpunu

Cerpen, Oleh : Yabes Nubatonis, S.H.

Kabut belum benar-benar terangkat dari punggung bukit ketika Lenzho menyalakan sepeda motornya.

Suara mesin memecah kesunyian pagi.

Ia mengencangkan tali helm, memastikan tas di punggungnya tidak bergeser. Di dalamnya ada beberapa buku, laptop, lembar materi, dan beberapa batang pena. Tidak banyak yang ia bawa. Namun bagi Lenzho, perjalanan hari itu membawa sesuatu yang jauh lebih berat daripada isi tasnya.

Harapan.

Tujuannya adalah SMA Negeri Matpunu.

Sekolah yang letaknya jauh di pelosok Timor Tengah Selatan. Sekolah yang tidak bisa dicapai hanya dengan menempuh jalan beraspal lalu berhenti di depan gerbang.

Untuk sampai ke sana, ada jalan panjang yang harus ditaklukkan.

Ada tanjakan.

Ada turunan.

Ada jalan berbatu.

Dan ada beberapa sungai yang harus diseberangi.

Lenzho sudah tahu itu.

Karena itu, sebelum berangkat, ia hanya menarik napas panjang dan berkata kepada dirinya sendiri,

“Kalau pintunya ada di sana, saya harus sampai.”

Mesin sepeda motor kembali meraung.

Ia berangkat.

Perjalanan menuju Matpunu seperti membaca sebuah buku yang halamannya belum selesai ditulis.

Jalan berkelok di antara bukit.

Kabut turun dan naik seperti tirai yang dibuka perlahan oleh pagi.

Sesekali cahaya matahari menembus celah pepohonan, lalu menghilang kembali.

Lenzho mengurangi kecepatan ketika jalan mulai berbatu.

Tas di punggungnya terasa semakin berat.

Namun ia tidak berhenti.

Bukan karena ia tidak lelah.

Ia lelah.

Tetapi ada sesuatu yang selalu membuatnya kembali menyalakan mesin setiap kali hendak menyerah.

Wajah anak-anak.

Wajah-wajah yang pernah ia temui di sekolah-sekolah lain.

Anak-anak yang memiliki mimpi, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan.

Anak-anak yang memiliki cerita, tetapi belum menemukan keberanian untuk menuliskannya.

Karena itulah ia terus berjalan.


Sungai pertama muncul setelah perjalanan yang cukup panjang.

Air mengalir di antara bebatuan.

Lenzho menghentikan sepeda motornya di tepi.

Ia memandang arus.

Tidak terlalu deras.

Tetapi cukup untuk membuatnya berhitung.

Ia membuka helm.

Menghela napas.

Kemudian perlahan mengarahkan sepeda motornya menyeberang.

Ban menyentuh air.

Cipratan membasahi sepatu.

Mesin terdengar lebih berat.

Lenzho menjaga keseimbangan.

Satu meter.

Dua meter.

Tiga meter.

Akhirnya ia sampai di seberang.

Ia berhenti sebentar.

Menoleh ke belakang.

Sungai itu kembali mengalir seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Lenzho tersenyum kecil.

“Baru satu,” gumamnya.

Ia tahu masih ada sungai berikutnya.

Sungai kedua lebih sulit.

Jalannya menurun.

Batu-batu besar memenuhi dasar lintasan.

Lenzho turun dari sepeda motor dan berjalan sebentar sambil menuntunnya.

Keringat mulai bercampur dengan dinginnya udara.

Di tengah perjalanan, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.

Untuk apa saya melakukan semua ini?

Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama tinggal di dalam dirinya.

Ia pernah bertanya hal yang sama setelah menghadiri banyak kegiatan.

Setelah mengunjungi banyak sekolah.

Setelah berbicara tentang membaca dan menulis berkali-kali.

Apakah satu orang bisa membuat perubahan?

Apakah perjalanan seperti ini benar-benar berarti?

Apakah anak-anak akan membaca setelah ia pulang?

Apakah mereka akan menulis?

Atau semua yang ia sampaikan hanya akan menjadi satu kegiatan yang selesai setelah hari berganti?

Lenzho berhenti.

Ia menatap arus sungai.

Untuk beberapa detik, ia merasa ingin kembali.

Tidak ada yang akan menyalahkannya jika ia pulang.

Tidak ada yang akan tahu bahwa ia memilih menyerah di tengah jalan.

Namun kemudian ia teringat satu hal.

Pintu sekolah.

Pintu yang belum diketuk.

Dan di balik pintu itu ada murid-murid yang bahkan mungkin belum pernah mendengar seseorang mengatakan kepada mereka bahwa cerita mereka berharga.

Lenzho kembali menggenggam stang sepeda motornya.

Ia melanjutkan perjalanan.

Ketika akhirnya sampai di SMA Negeri Matpunu, matahari sudah cukup tinggi.

Lenzho mematikan mesin.

Ia turun dari sepeda motor.

Ada debu di celana.

Ada cipratan air sungai di sepatu.

Ada keringat di wajah.

Tetapi ia tersenyum.

Di hadapannya berdiri sekolah itu.

Sederhana.

Jauh.

Sunyi dari keramaian kota.

Namun Lenzho tidak melihat keterbatasan itu.

Ia melihat masa depan.

Ia melihat anak-anak yang mungkin suatu hari nanti akan menjadi orang-orang penting bagi daerah ini.

Ia melihat buku-buku yang belum ditulis.

Ia melihat cerita-cerita yang belum lahir.

Ia melihat pintu.

Dan pintu itu hari ini terbuka.

Di dalam kelas, Lenzho berdiri di hadapan murid-murid.

Ia tidak langsung berbicara tentang teori.

Tidak membuka slide.

Tidak menghafalkan definisi.

Ia mengambil sebuah buku.

Meletakkannya di meja.

Kemudian bertanya,

“Siapa di sini yang suka membaca?”

Beberapa tangan terangkat.

Lenzho tersenyum.

“Tidak apa-apa kalau belum banyak.”

Ia berhenti.

“Sekarang saya bertanya lagi. Siapa yang punya cerita, tetapi belum pernah menuliskannya?”

Kali ini hampir semua tangan terangkat.

Lenzho terdiam.

Ia merasa seperti baru saja menemukan jawaban dari perjalanan panjangnya.

Anak-anak itu tidak kekurangan cerita.

Mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.

Seorang murid bernama Evan akhirnya maju.

“Pak, saya tidak pandai menulis.”

“Kenapa?”

“Saya tidak tahu bagaimana memulainya.”

Lenzho mengambil pena dari sakunya.

“Kalau begitu, jangan mulai dari tulisan.”

Evan bingung.

“Mulai dari apa?”

“Mulai dari kehidupanmu.”

“Bagaimana?”

“Siapa orang yang paling kamu ingat?”

Evan diam.

Kemudian menjawab,

“Bapak.”

“Ceritakan tentang Bapakmu.”

Evan menatap kertas kosong.

Lenzho meletakkan pena di depannya.

“Tidak perlu bagus. Yang penting jujur.”

Evan menggenggam pena.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian sebuah kata muncul di kertas.

Lalu sebuah kalimat.

Kemudian kalimat berikutnya.

Lenzho tersenyum.

Di hadapannya, sebuah pintu baru saja terbuka.

Bukan pintu sekolah.

Bukan pintu kelas.

Pintu di dalam diri seorang anak.

Sore menjelang ketika Lenzho bersiap pulang.

Seorang murid berlari menghampirinya.

“Pak!”

Lenzho berhenti.

“Ya?”

“Kalau tulisan saya selesai, boleh dibuat buku?”

Lenzho menatap wajah anak itu.

Ada kesungguhan di matanya.

“Boleh.”

“Benarkah?”

“Kalau kamu menyelesaikannya, kita usahakan.”

Anak itu tersenyum.

Lalu berlari kembali.

Lenzho memasang helm.

Menyalakan sepeda motor.

Suara mesin kembali memecah halaman sekolah.

Ia menoleh sekali lagi ke arah SMA Negeri Matpunu.

Kemudian pergi.

Perjalanan pulang terasa berbeda.

Ia kembali melewati sungai-sungai yang tadi diseberanginya.

Sungai pertama.

Sungai kedua.

Dan sungai berikutnya.

Namun kali ini Lenzho tidak lagi melihat sungai hanya sebagai penghalang.

Ia melihatnya sebagai bagian dari perjalanan.

Sungai mengajarinya bahwa untuk sampai ke seberang, seseorang harus berani masuk ke dalam arus.

Jalan mengajarinya bahwa tujuan tidak selalu dekat.

Kabut mengajarinya bahwa seseorang tidak harus melihat seluruh jalan untuk berani melangkah.

Pintu mengajarinya bahwa perubahan selalu membutuhkan keberanian untuk mengetuk.

Dan pena mengajarinya bahwa sesuatu yang besar bisa dimulai dari satu goresan kecil.

Malam itu, setelah sampai di rumah, Lenzho meletakkan helm di sudut ruangan.

Ia membuka tas.

Mengeluarkan buku.

Mengeluarkan laptop.

Kemudian mengambil pena yang tadi digunakannya di kelas.

Ia meletakkannya di atas meja.

Lenzho teringat wajah murid-murid Matpunu.

Ia teringat jalan.

Ia teringat sungai.

Ia teringat kabut.

Ia teringat pintu sekolah.

Dan ia teringat pertanyaan seorang anak :

"Kalau tulisan saya selesai, boleh dibuat buku?”

Lenzho tersenyum.

Barangkali itulah alasan ia terus berjalan.

Bukan untuk mendapatkan tepuk tangan.

Bukan untuk mengejar nama.

Bukan pula untuk memastikan setiap anak menjadi penulis.

Ia hanya ingin memastikan tidak ada anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa ceritanya tidak penting.

Karena cerita yang tidak ditulis bisa hilang.

Kenangan yang tidak diabadikan bisa dilupakan.

Dan suara yang tidak diberi ruang bisa terkubur dalam diam.

Di luar, malam Timor semakin pekat.

Lenzho menatap pena di atas meja.

Besok ia mungkin akan kembali ke jalan.

Sepeda motor kembali menjadi teman.

Kabut mungkin kembali turun.

Sungai mungkin kembali menghadang.

Pintu sekolah lain mungkin kembali menunggu untuk diketuk.

Ia tahu, tidak semua perjalanan akan mudah.

Tidak semua pintu akan langsung terbuka.

Tidak semua tulisan akan menjadi buku.

Tetapi ia tidak ingin berhenti.

Sebab ia telah belajar dari sungai-sungai yang dilaluinya: Seberang tidak pernah datang kepada orang yang takut menyentuh air.

Maka selama masih ada sekolah yang menunggu, ia akan terus berjalan.

Selama masih ada murid yang berkata, “Saya tidak bisa menulis,” ia akan terus memberikan pena.

Selama masih ada halaman kosong, ia akan terus mengajak mereka mengisinya.

Dan selama masih ada kabut yang membuat jalan di depan terlihat samar, ia akan tetap menyalakan mesin sepeda motornya.

Sebab seseorang tidak harus mengetahui seluruh jalan untuk memulai perjalanan.

Ia hanya perlu cukup berani untuk mengambil beberapa meter pertama.

Bertahun-tahun kemudian, mungkin Lenzho tidak akan mengingat semua jalan yang pernah dilewatinya.

Ia mungkin lupa berapa kali sepatunya basah karena menyeberangi sungai.

Ia mungkin lupa berapa kali kabut membuat pandangannya terbatas.

Ia mungkin lupa berapa banyak sekolah yang pernah ia datangi.

Tetapi ia berharap anak-anak itu tidak melupakan satu hal : Pernah ada seseorang yang datang dari kejauhan.

Menyeberangi sungai.

Menembus kabut.

Melewati jalan yang panjang.

Lalu berdiri di depan mereka sambil membawa sebuah pena.

Bukan untuk mengatakan bahwa ia lebih pintar.

Melainkan untuk mengatakan: “Tuliskan ceritamu. Dunia perlu tahu bahwa kamu pernah ada.”

Mungkin suatu hari nanti, ketika anak-anak itu telah dewasa, mereka akan membuka kembali buku yang pernah mereka tulis.

Mereka akan membaca nama mereka sendiri.

Mereka akan tersenyum.

Dan mungkin mereka akan bertanya,

“Siapa yang dulu mengajarkan saya untuk berani menulis?”

Barangkali mereka tidak lagi mengingat wajah Lenzho dengan jelas.

Tidak apa-apa.

Sebab Lenzho tidak pernah ingin dirinya menjadi tujuan.

Ia hanya ingin menjadi jalan.

Jalan yang membantu mereka menemukan arah.

Dan jika suatu hari nanti jalan itu sudah tidak membutuhkan langkahnya lagi, ia akan rela berhenti.

Karena tugas seorang penggerak bukan memastikan dirinya selalu dikenang.

Tugasnya adalah memastikan cahaya yang ia bawa bisa diteruskan oleh orang lain.

Di luar rumah, angin malam bergerak perlahan.

Lenzho memandang ke arah gelap.

Besok pagi, sepeda motor itu akan kembali dinyalakan.

Akan ada jalan baru.

Ada sungai baru.

Ada kabut baru.

Ada pintu baru.

Dan mungkin ada seorang anak baru yang sedang menunggu untuk menemukan suaranya.

Lenzho mengambil pena dari meja.

Menggenggamnya.

Kemudian mematikannya lampu.

Sebab ia tahu, waktu tidak pernah berhenti.

Hari ini akan menjadi kemarin.

Besok akan menjadi hari ini.

Dan suatu saat, hari esok pun akan menjadi masa lalu.

Maka sebelum semua itu terjadi, ia ingin memastikan satu hal: Ada cerita yang berhasil diselamatkan dari kesunyian.

Ada seorang anak yang berani menulis.

Ada sebuah sekolah pelosok yang berani bermimpi.

Ada sebuah pena yang pernah berpindah dari tangan ke tangan.

Dan ada seorang lelaki yang dengan sepeda motor sederhananya, memilih menembus kabut, menyeberangi sungai, dan mengetuk pintu-pintu sekolah.

Sebelum hari esok menjadi kemarin.*

Ket Foto : Hasil Karya SMA Negeri Matpunu 


Tags

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2020 soepost.com ™ Member Of Kupang Online Network ®