Mencari Tuhan sebagai Gaya Hidup


(Refleksi Alkitabiah atas Perayaan HUT Gerakan Kebangunan Rohani SoE ke-61) 

Oleh : Dr. Margarita D. I. Ottu, M.Pd.K., M.Pd.

Perayaan Hari Ulang Tahun Gerakan Kebangunan Rohani (GKR) SoE ke-61 bukan sekadar peringatan tentang perjalanan sebuah gerakan rohani. Enam puluh satu tahun adalah kesempatan untuk bersyukur atas penyertaan Tuhan, mengenang warisan iman yang telah diteruskan dari generasi ke generasi, sekaligus melakukan refleksi, apakah kehidupan umat Kristen masa kini sungguh-sungguh masih mencerminkan kerinduan untuk mencari Tuhan?

Tema “Mencari Tuhan sebagai Gaya Hidup” merupakan tema yang sangat kuat dan relevan. Tema ini tidak hanya berbicara tentang aktivitas keagamaan, tetapi tentang seluruh keberadaan manusia di hadapan Allah. Dalam perspektif Alkitab, mencari Tuhan bukanlah tindakan sesaat, bukan pula sesuatu yang dilakukan hanya ketika manusia sedang mengalami kesulitan. Mencari Tuhan merupakan panggilan yang berlangsung sepanjang kehidupan.

Pemazmur berkata, “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mazmur 105:4). Kata “selalu” memberikan penekanan penting bahwa mencari Tuhan bukan kegiatan musiman. Ia bukan hanya dilakukan ketika ada perayaan rohani, ketika menghadapi masalah, atau ketika membutuhkan pertolongan. Mencari Tuhan adalah orientasi hidup.

Karena itu, HUT GKR SoE ke-61 hendaknya menjadi momentum untuk bertanya lebih dalam yakni Apakah Tuhan hanya menjadi bagian dari kehidupan kita, ataukah Tuhan sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan kita?

Enam Puluh Satu Tahun menjadi momen mengingat sejarah, dan menatap masa depan.

Setiap perayaan ulang tahun membawa kita pada dua arah: melihat ke belakang dan memandang ke depan. Kita melihat apa yang telah Tuhan kerjakan, tetapi sekaligus bertanya apa yang harus kita lakukan pada masa mendatang.

Enam puluh satu tahun perjalanan GKR SoE merupakan bagian dari sejarah kehidupan iman masyarakat Timor Tengah Selatan. Sejarah sebuah gerakan rohani tidak seharusnya hanya dikenang sebagai masa lalu. Warisan rohani harus terus dihidupkan oleh generasi berikutnya.

Dalam Alkitab, pengalaman iman tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti pada satu generasi. Musa berkata kepada bangsa Israel agar firman Tuhan diajarkan berulang-ulang kepada anak-anak mereka dan dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari (Ulangan 6:6-7).

Artinya, iman harus diwariskan bukan hanya melalui cerita, tetapi melalui kehidupan.

Karena itu, HUT GKR SoE ke-61 perlu menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali semangat yang diwariskan oleh para pendahulu. Kebangunan rohani bukan sekadar sejarah tentang bagaimana orang-orang dahulu mencari Tuhan. Kebangunan rohani harus menjadi panggilan bagi generasi sekarang untuk kembali mencari Tuhan.

Pertanyaannya bukan hanya “Apa yang telah terjadi selama 61 tahun?”, tetapi juga “Apa yang Tuhan kehendaki kita lakukan setelah 61 tahun ini?”

Mencari Tuhan adalah sebuah Panggilan Alkitabiah. 

Alkitab berulang kali mengajak manusia untuk mencari Tuhan. Nabi Amos berkata, “Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (Amos 5:4).

Ayat ini menunjukkan bahwa mencari Tuhan berkaitan erat dengan kehidupan. Tuhan bukan sekadar tambahan dalam kehidupan manusia. Hubungan dengan Tuhan merupakan sumber dan arah kehidupan itu sendiri.

Nabi Yesaya juga menyerukan “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6).

Panggilan ini menunjukkan adanya urgensi. Manusia tidak boleh terus menunda pencarian terhadap Tuhan.

Dalam konteks kehidupan masa kini, manusia sering mengatakan bahwa ia terlalu sibuk untuk berdoa, terlalu banyak pekerjaan untuk membaca Alkitab, terlalu lelah untuk beribadah, atau terlalu banyak persoalan untuk menyediakan waktu bagi Tuhan.

Ironisnya, kita dapat menemukan waktu untuk berbagai hal yang kita anggap penting, tetapi sering kesulitan menyediakan waktu bagi Tuhan.

Karena itu, mencari Tuhan sebagai gaya hidup berarti menempatkan Tuhan bukan pada sisa waktu kita, melainkan pada pusat kehidupan kita.

Mencari Tuhan bukan sekadar mencari berkat, dan salah satu persoalan kehidupan iman adalah kecenderungan manusia mencari Tuhan terutama karena menginginkan sesuatu dari-Nya.

Kita berdoa ketika membutuhkan pertolongan. Kita datang beribadah ketika sedang mengalami pergumulan. Kita mencari Tuhan ketika membutuhkan kesembuhan, pekerjaan, keberhasilan, perlindungan, atau jalan keluar dari masalah.

Tentu tidak salah membawa kebutuhan kepada Tuhan. Alkitab sendiri mengajarkan agar kita membawa segala kekhawatiran kepada-Nya (1 Petrus 5:7). Yesus juga mengajarkan manusia untuk berdoa dan meminta kepada Bapa (Matius 7:7-11).

Namun, kehidupan iman tidak boleh berhenti pada “mencari tangan Tuhan” yang memberi berkat. Kita dipanggil untuk “mencari wajah Tuhan”, yaitu mengenal dan mengasihi Tuhan sendiri.

Pemazmur berkata “Hatiku mengikuti firman-Mu: ‘Carilah wajah-Ku’; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN.” (Mazmur 27:8).

Inilah inti spiritualitas Kristen yaitu Tuhan bukan sekadar sarana untuk mencapai apa yang kita inginkan. Tuhan adalah tujuan utama kehidupan.

Karena itu, iman tidak boleh menjadi hubungan transaksional: “Tuhan, saya akan datang kepada-Mu jika Engkau memberikan apa yang saya minta.”

Sebaliknya, iman berkata: “Sekalipun apa yang saya harapkan belum terjadi, saya tetap mencari dan mempercayai Tuhan.”

Hal ini terlihat dalam pengakuan Habakuk bahwa “Sekalipun pohon ara tidak berbunga... namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.” (Habakuk 3:17-18).Inilah iman yang tidak bergantung semata-mata pada keadaan.

Yeremia 29:13 memberikan salah satu dasar penting bagi tema ini bahwa “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.”

Ada kata penting di sini: “segenap hati.”

Mencari Tuhan tidak dapat dilakukan setengah-setengah. Tuhan tidak menghendaki sebagian kecil dari hidup kita sementara bagian terbesar diberikan kepada kepentingan lain.

Yesus menegaskan hukum yang terutama yaitu “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37).

Karena itu, mencari Tuhan sebagai gaya hidup berarti membawa seluruh kehidupan kita kepada Tuhan yaitu pikiran, perasaan, pekerjaan, keluarga, ekonomi, pendidikan, pelayanan, relasi sosial, bahkan penggunaan teknologi.

Dengan demikian, kehidupan rohani tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Mencari Tuhan di tengah dunia digital

Generasi sekarang hidup dalam dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Teknologi digital dan media sosial memberikan banyak manfaat, tetapi juga dapat membuat manusia kehilangan keheningan.

Kita dapat mengetahui begitu banyak informasi, tetapi kehilangan waktu untuk merenung. Kita dapat terhubung dengan ribuan orang melalui media sosial, tetapi belum tentu memiliki relasi yang mendalam dengan keluarga. Kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam melihat layar, tetapi merasa tidak memiliki waktu untuk membaca Alkitab.

Dalam konteks seperti ini, panggilan untuk mencari Tuhan menjadi semakin penting.

Roma 12:2 mengingatkan bahwa “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”

Ayat ini tidak berarti orang Kristen harus menolak perkembangan zaman. Yang harus ditolak adalah ketika pola hidup dunia menguasai pikiran dan menjauhkan manusia dari kehendak Allah.

Teknologi harus menjadi alat, bukan tuan. Media sosial dapat menjadi sarana menyebarkan kebaikan, tetapi jangan sampai kebutuhan akan likes, komentar, dan pengakuan manusia menggantikan kebutuhan akan penerimaan Allah.

Kita perlu bertanya, Apakah teknologi semakin mendekatkan kita kepada tujuan hidup yang Tuhan kehendaki, atau justru mengambil waktu yang seharusnya kita gunakan untuk membangun relasi dengan Tuhan dan sesama?

Mencari Tuhan tidak cukup hanya melalui kata-kata. Kehidupan yang mencari Tuhan harus menghasilkan buah.

Yesus berkata, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Matius 7:16). Ini berarti kehidupan spiritual memiliki konsekuensi etis.

Orang yang sungguh mencari Tuhan seharusnya mengalami perubahan dalam cara memperlakukan orang lain.

Rasul Paulus menggambarkan buah kehidupan yang dipimpin Roh melalui kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23).

Karena itu, kebangunan rohani tidak dapat hanya diukur dari meriahnya ibadah, banyaknya orang yang hadir, panjangnya doa, atau kuatnya emosi dalam sebuah persekutuan.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah Apakah kehidupan kita semakin menyerupai Kristus?

Jika setelah mengikuti kebaktian seseorang tetap mudah membenci, tidak mau mengampuni, suka merendahkan orang lain, tidak jujur, melakukan kekerasan, atau menyalahgunakan kekuasaan, maka kita perlu kembali bertanya tentang makna kebangunan rohani.

Yakobus mengingatkan bahwa iman harus nyata dalam perbuatan (Yakobus 2:17).

Dengan demikian, kebangunan rohani harus bergerak dari mimbar menuju kehidupan, dari gereja menuju keluarga, dari ibadah menuju pelayanan, dan dari kata-kata menuju tindakan.

Mencari Tuhan dalam Keluarga

Keluarga merupakan tempat penting bagi pembentukan spiritualitas. Ulangan 6:6-7 mengajarkan bahwa firman Tuhan harus dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, iman bukan hanya urusan gereja pada hari Minggu. Iman harus menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Orang tua dipanggil bukan hanya mengajarkan anak untuk berdoa, tetapi menunjukkan melalui kehidupan bagaimana doa itu dijalankan.

Anak-anak belajar tentang pengampunan ketika melihat orang tuanya mengampuni. Anak belajar tentang kasih ketika melihat kasih dipraktikkan. Anak belajar tentang kejujuran ketika melihat orang tuanya hidup jujur.

Karena itu, mencari Tuhan sebagai gaya hidup harus dimulai dari rumah.

Keluarga Kristen perlu menjadi tempat di mana doa, percakapan, pengampunan, kasih, penghormatan, dan kepedulian menjadi kebiasaan.

Mencari Tuhan Berarti Mengasihi Sesama

Yesus menghubungkan kasih kepada Tuhan dengan kasih kepada sesama.

Ketika ditanya tentang hukum yang terutama, Yesus menyebut kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (Matius 22:37-40).

Karena itu, spiritualitas yang hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan tetapi mengabaikan manusia lain adalah spiritualitas yang perlu terus diperiksa.

Surat 1 Yohanes bahkan memberikan hubungan yang sangat jelas antara kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (1 Yohanes 4:20-21).

Maka mencari Tuhan berarti membuka mata terhadap penderitaan di sekitar kita. Ketika ada keluarga miskin, gereja dipanggil untuk peduli. Ketika ada anak yang menjadi korban kekerasan, umat Kristen dipanggil untuk melindungi. Ketika ada orang yang mengalami kesepian, gereja dipanggil untuk hadir. Ketika terjadi ketidakadilan, umat percaya dipanggil untuk memperjuangkan kebenaran dengan cara yang sesuai dengan iman Kristen.

Mikha 6:8 mengingatkan umat Tuhan untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.

Dengan demikian, mencari Tuhan tidak membuat manusia menjauh dari realitas sosial. Sebaliknya, perjumpaan dengan Tuhan seharusnya membuat kita semakin peka terhadap penderitaan sesama.

Pesan bagi Generasi Muda

HUT GKR SoE ke-61 harus menjadi momentum untuk memberikan ruang bagi generasi muda.

Generasi muda tidak cukup hanya diajak menjadi penonton sejarah. Mereka harus menjadi bagian dari kehidupan iman yang terus diperbarui.

Mazmur 119:9 bertanya, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?”

Jawabannya adalah dengan menjaganya sesuai dengan firman Tuhan.

Generasi muda perlu memahami bahwa mengikuti Kristus tidak berarti kehilangan masa depan. Sebaliknya, Kristus memberikan arah bagi masa depan.

Pendidikan, teknologi, kreativitas, pekerjaan, seni, ilmu pengetahuan, dan berbagai bidang kehidupan dapat menjadi ruang untuk menyatakan iman.

Namun, di tengah semua pencapaian itu, jangan sampai manusia memperoleh dunia tetapi kehilangan jiwanya. Yesus bertanya “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36).

Karena itu, generasi muda perlu mengejar pendidikan, tetapi juga mengejar hikmat. Mengejar pekerjaan, tetapi tidak kehilangan integritas. Mengejar prestasi, tetapi tidak kehilangan kerendahan hati. Menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi.

Di atas semuanya, carilah Tuhan.

Dari Perayaan Menuju Pembaruan

HUT GKR SoE ke-61 harus menjadi lebih dari sekadar acara seremonial.

Ketika musik berhenti, panggung dibongkar, tamu pulang, dan perayaan selesai, pertanyaannya adalah, apa yang berubah dalam kehidupan kita?

Roma 12:1 mengingatkan orang percaya untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.

Ini berarti seluruh kehidupan menjadi persembahan.

Maka setelah perayaan, biarlah ada komitmen baru yaitu lebih tekun berdoa, lebih sungguh membaca Firman, lebih setia beribadah, lebih tulus melayani, lebih mudah mengampuni, lebih jujur dalam bekerja, lebih peduli kepada yang lemah, lebih berani membela kebenaran, dan lebih rendah hati di hadapan Tuhan.

Jika semua itu bertumbuh, maka perayaan HUT ke-61 menjadi momentum pembaruan yang nyata.

Jadikan mencari Tuhan sebagai napas kehidupan. Enam puluh satu tahun adalah perjalanan panjang. Tetapi perjalanan iman tidak pernah selesai.

Setiap generasi dipanggil untuk mencari Tuhan kembali.

Yeremia 29:13 berkata, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.”

Mazmur 105:4 berkata, “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!”

Dan Yesus mengingatkan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya” (Matius 6:33).

Ketiga kesaksian Alkitab ini memberikan arah yang jelas: Tuhan tidak boleh menjadi bagian kecil dari kehidupan kita. Tuhan harus menjadi pusat kehidupan.

Karena itu, HUT GKR SoE ke-61 bukan hanya momentum untuk mengingat apa yang telah Tuhan kerjakan selama 61 tahun. Ini juga merupakan undangan untuk bertanya kepada diri sendiri, Apakah saya sungguh-sungguh sedang mencari Tuhan? Bukan hanya mencari berkat-Nya, tetapi mencari Dia.

Bukan hanya mencari pertolongan-Nya, tetapi mencari kehendak-Nya.

Bukan hanya mencari hadirat-Nya dalam ibadah, tetapi menghadirkan kehendak-Nya dalam kehidupan.

Bukan hanya berbicara tentang kasih, tetapi menghidupi kasih.

Bukan hanya berbicara tentang kebangunan rohani, tetapi mengalami pembaruan hidup.

Pada akhirnya, mencari Tuhan sebagai gaya hidup berarti menjadikan Tuhan sebagai pusat dari seluruh kehidupan yaitu ketika kita bangun, bekerja, belajar, melayani, membangun keluarga, menghadapi masalah, menggunakan teknologi, mengambil keputusan, dan bahkan ketika kita berada dalam kesunyian.

Kiranya HUT GKR SoE ke-61 menjadi momentum bagi umat Kristen untuk kembali kepada panggilan yang paling mendasar yaitu “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!”

Jangan biarkan kebangunan rohani hanya menjadi cerita masa lalu. Biarlah kebangunan itu terus hidup dalam generasi sekarang.

Sebab gereja tidak hanya membutuhkan orang-orang yang tahu tentang Tuhan; gereja membutuhkan orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan, mengenal Tuhan, mengasihi Tuhan, dan menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Mencari Tuhan bukan sekadar kegiatan. Mencari Tuhan adalah gaya hidup.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2020 soepost.com ™ Member Of Kupang Online Network ®