Membaca Kembali Air Berubah Menjadi Anggur dari Mereka yang Melayani
Perayaan enam puluh tahun Peristiwa Air Berubah Menjadi Anggur membawa
banyak orang kembali kepada sebuah ingatan iman yang telah lama hidup di SoE.
Cerita kembali dituturkan, doa dinaikkan dan generasi yang tidak mengalami masa
itu ikut menerimanya sebagai warisan. Ada syukur, kekaguman, juga kerinduan
agar karya Allah yang dipercaya pernah dialami generasi terdahulu tidak
berhenti sebagai cerita masa lalu.
Saya ikut menghargai ingatan itu. Namun pikiran saya justru pergi kepada
keadaan yang sangat biasa setelah perayaan selesai. Kursi dirapikan, mikrofon
dimatikan, orang orang pulang. Besok pagi kehidupan kembali berjalan. Ada yang
pergi ke kebun, mengantar anak ke sekolah, masuk kantor, mencari air, atau
kembali melayani. Di situlah satu pertanyaan kecil terus mengganggu saya : setelah
semua yang kita rayakan, apa yang sebenarnya tinggal dalam diri kita?
Pertanyaan itu semakin kuat ketika saya membaca opini berjudul “Merawat Ingatan, Merawat Kehidupan” yang dimuat di Pos Kupang/Tribunnews dan merefleksikan Peristiwa Air Berubah Menjadi Anggur. Tulisan itu membawa satu kegelisahan yang sulit saya lewatkan : gereja dapat begitu tekun menjaga ingatan tentang air yang dipercaya berubah menjadi anggur, tetapi pada saat yang sama perlu terus bertanya seberapa sungguh ingatan tersebut menolong kita merawat kehidupan hari ini. Bagi saya, kegelisahan itu layak diteruskan. Persoalannya bukan memilih antara mengenang mukjizat dan merawat kehidupan. Justru karena kita percaya Allah bekerja, ingatan tentang karya Nya seharusnya membuat kita semakin sungguh menjaga kehidupan yang dikasihi Nya.
1.
Siapa yang
Membawa Air?
Enam puluh tahun lebih bukan waktu yang pendek bagi
sebuah cerita. Sebagian orang yang mengalami masa itu mungkin telah tiada,
tetapi cerita terus berjalan dari rumah ke gereja dan dari satu generasi kepada
generasi berikutnya. Ingatan tidak hanya menjaga cerita. Ia juga ikut membentuk
orang yang mengingatnya. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apakah cerita
tersebut masih hidup, melainkan manusia seperti apa yang sedang dibentuk
olehnya?
Kwok Pui Lan menolong saya melihat bahwa ketika sebuah
cerita besar diwariskan, kita juga perlu bertanya tentang mereka yang tidak
banyak terdengar di dalamnya. Melalui pengalaman perempuan Asia, Kwok
mengingatkan bahwa sejarah dan teologi juga menyimpan pertanyaan tentang siapa
yang berbicara dan siapa yang didengar (Kwok, 2005). Pikiran itu membuat saya
bertanya: siapa yang menjaga cerita di rumah, tetap berdoa tanpa berdiri di
mimbar, menyiapkan makanan, menerima tamu, menjaga anak, atau mengerjakan pekerjaan
kecil yang membuat kehidupan terus berjalan?
Saya tidak tahu apakah semua suara itu telah cukup
tercatat dan tidak mempunyai dasar untuk mengatakan bahwa mereka sengaja
disingkirkan. Justru karena tidak mengetahui semuanya, kita perlu rendah hati. Mengingat
dengan jujur juga berarti bersedia mendengar mereka yang mungkin belum cukup
terdengar.
Dari sana pikiran saya berhenti pada air. Air diminum,
dipakai memasak, dibawa pulang, dicari ketika sumber mengering dan dibutuhkan
agar kebun tetap hidup. Bagi mereka yang mendapatkannya dengan mudah, air
barangkali hanya sesuatu yang mengalir. Bagi orang yang harus berjalan
mencarinya, air mempunyai berat. Berat itu terasa pada tangan, bahu, waktu,
bahkan tubuh yang pulang dalam keadaan lelah. Tangan itu dapat menjadi tangan
perempuan, laki laki, anak, atau siapa saja yang mengerjakan sesuatu agar kehidupan
tetap berjalan.
Kenyataan itu bukan sekadar metafora. Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada 2025 sebanyak 71,69 persen rumah tangga di Timor Tengah Selatan memiliki akses terhadap sumber air minum layak (Badan Pusat Statistik, 2026). Angka tidak dapat menceritakan seluruh pengalaman sebuah keluarga, tetapi ia mengingatkan bahwa percakapan tentang air di tanah ini selalu mempunyai hubungan dengan kehidupan nyata. Barangkali teologi tentang air juga perlu sesekali mendengar tubuh yang memikul beratnya.
2.
Tangan yang
Melayani, Bukan Mencari Panggung.
Pikiran tentang tangan yang membawa air membuat saya
membaca kembali kisah Kana dalam Yohanes 2. Pusat cerita itu tentu Yesus yang
melalui tanda tersebut menyatakan kemuliaan Nya sehingga para murid percaya
kepada Nya (Yoh. 2:11). Namun mata saya juga tertahan pada para pelayan. Mereka
mengisi tempayan, mencedok, lalu membawa apa yang diperintahkan. Tangan mereka
berada dekat dengan sebuah tanda besar, tetapi tidak berusaha menjadi besar
karenanya. Hamba adalah orang yang tangannya bekerja, tetapi tidak merasa
dirinya pusat pekerjaan Allah.
Pelajaran itu tidak selalu mudah ketika dibawa masuk ke
gereja. Persekutuan Doa mempunyai karunia, majelis memikul tanggung jawab,
pendeta menerima kepercayaan untuk melayani dan jemaat memiliki pemberian yang
beragam. Semuanya diperlukan. Persoalan muncul ketika tangan yang semula
melayani mulai ingin ditonton, karunia membuat kita merasa lebih rohani, atau
jabatan diam diam membuat kita merasa lebih penting. Ibadah dan kegiatan
dapat tetap ramai, tetapi keramaian belum tentu menandakan kehambaan sedang
sehat.
Letty M. Russell membayangkan gereja sebagai persekutuan
di sekitar meja, tempat kepemimpinan berarti bekerja bersama, berbagi dan
menyediakan ruang bagi sesama (Russell, 1993). Gereja tentu membutuhkan
struktur, jabatan, aturan dan kepemimpinan. Persoalannya bukan siapa yang
berdiri di depan. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi kepada orang lain
karena kita berdiri di sana. Apakah kita sedang memperpanjang meja atau
meninggikan panggung?
Pertanyaan itu mudah diarahkan kepada orang lain.
Persekutuan Doa dapat memakainya untuk memeriksa struktur, struktur dapat
mengarahkannya kembali, pendeta dapat menyampaikannya kepada jemaat, sedangkan
jemaat diam diam berharap pendetanya juga mendengar khotbahnya sendiri. Rupanya
kita cukup pandai menyediakan cermin bagi orang lain.
Saya pun tidak berdiri di luar cermin itu. Pertanyaan pertama harus kembali kepada diri sendiri: apakah karunia, jabatan, pengalaman rohani dan kewenangan yang dipercayakan kepada saya membuat Kristus semakin terlihat, atau justru membuat saya semakin ingin terlihat?
3.
Ketika Tangan
Menyentuh Kehidupan
Kebangunan rohani membawa gereja kepada syukur, doa,
pertobatan, pembaruan iman dan pengharapan. Saya tidak ingin menguranginya
menjadi kegiatan sosial. Namun justru karena hati disentuh Allah, kita perlu
bertanya apakah mata menjadi lebih peka melihat luka, telinga lebih sabar
mendengar, tangan lebih ringan menolong dan kuasa membuat kita semakin rendah
hati.
Mercy Amba Oduyoye berbicara dari pengalaman perempuan
Afrika dan memberi tempat penting kepada kehidupan sehari hari dalam berteologi
(Oduyoye, 2001). Afrika tentu bukan Timor. Pengalamannya tidak dapat begitu
saja dipindahkan ke Mollo, Amanuban, atau Amanatun. Namun satu pertanyaannya
pantas kita bawa ke sini: apakah teologi sungguh mendengarkan kehidupan
orang yang menjalani iman itu?
Iman di Timor tidak hanya hidup di mimbar. Ia juga hidup
di rumah, kebun, pasar, sekolah, sumur dan meja makan. Kita mudah terpukau oleh
pekerjaan yang mengubah keadaan dalam sekejap, padahal sebagian besar kehidupan
bertahan karena ada orang yang setiap hari mengerjakan hal kecil dengan setia.
Kita tidak melayani untuk membuktikan bahwa kita lebih beriman. Kita melayani
karena percaya bahwa hidup kita sendiri terlebih dahulu ditopang oleh kasih
karunia. Hati yang disentuh Allah seharusnya membuat tangan kita lebih mudah
menyentuh kehidupan yang terluka.
Gereja perlu menghitung kehadiran, kegiatan, persembahan, anggaran dan program sebagai bentuk pertanggungjawaban. Banyak pelayanan gereja juga telah menyentuh kehidupan nyata. Namun ada hal yang tidak selalu masuk ke tabel laporan: keluarga yang hampir menyerah tetapi menemukan teman berjalan, anak yang tetap dapat bersekolah, atau relasi yang perlahan dipulihkan. Kita perlu menghitung kegiatan. Tetapi sesekali kita juga perlu bertanya: adakah luka yang berkurang?
4.
Tangan yang
Menjaga Kehidupan
Tidak semua luka masyarakat dapat dibebankan kepada
gereja. Ada tanggung jawab negara yang tidak boleh dialihkan menjadi sekadar
amal, ada tanggung jawab keluarga dan masyarakat yang tidak dapat seluruhnya
diserahkan kepada pemerintah dan ada panggilan gereja yang tidak selesai hanya
dengan mengatakan bahwa persoalan sosial adalah urusan negara. Di tengah
pembagian tanggung jawab itu, gereja jangan kehilangan kemampuan melihat
manusia. Gereja tidak harus mampu menyembuhkan semua luka, tetapi jangan
sampai ada orang terluka di dekatnya dan merasa tidak seorang pun melihat.
Pada akhirnya perayaan selesai. Kursi dirapikan, mikrofon
dimatikan, lalu kita pulang. Kehidupan esok hari kembali menunggu. Ketika
kemeriahan telah berlalu, pertanyaannya bukan hanya apakah kita masih mengingat
Peristiwa Air Berubah Menjadi Anggur.
Tangan seperti apa yang kita bawa pulang?
Saya berharap tangan itu tidak lagi sama. Tidak harus
mampu mengerjakan hal besar. Cukuplah menjadi tangan yang lebih ringan
menolong, tidak cepat menunjuk orang lain, bersedia bekerja meskipun tidak
selalu dilihat dan memahami bahwa kuasa yang dipercayakan bukan untuk
menggenggam manusia semakin erat.
Mukjizat boleh menjadi cerita yang kita warisi. Tetapi
cara kita memperlakukan manusia adalah cerita yang sedang kita tulis. Barangkali di
situlah perayaan menemukan maknanya. Kita pulang bukan hanya membawa cerita
tentang apa yang dipercaya pernah Allah kerjakan, tetapi juga pertanyaan
tentang apa yang akan kita kerjakan karena mempercayainya.
Tangan yang pernah terangkat dalam doa seharusnya tidak menjadi asing ketika harus terulur kepada sesama. Karya Allah tidak menjadi lebih besar karena kita ramai membelanya. Barangkali kesaksian yang paling jujur justru terlihat dari kehidupan yang kita jaga karena percaya kepada Nya.
Daftar Rujukan :
Badan Pusat Statistik. (2026). Persentase rumah tangga
yang memiliki akses terhadap sumber air minum layak menurut kabupaten/kota
(persen), 2025. Badan Pusat Statistik
Kwok, P. L. (2005). Postcolonial imagination and
feminist theology. Westminster John Knox Press.
Oduyoye, M. A. (2001). Introducing African women's
theology. Sheffield Academic Press.
Russell, L. M. (1993). Church in the round: Feminist interpretation of the church. Westminster John Knox Press.

