![]() |
| Ket Foto : Penyerahan paket kasih kepada jemaat penerima. |
Oleh: Pdt. Yorim Y. Kause,S.Th
(Anggota Kaum Bapak Jemaat Nazaret Taum)
![]() |
| Ket Foto : Kunjungan kasih di rumah jemaat sebagai wujud kepedulian gereja. |
Perayaan Paskah tidak berhenti pada liturgi, nyanyian, atau simbol-simbol gerejawi, tetapi menemukan maknanya yang paling nyata ketika kebangkitan Kristus diterjemahkan menjadi tindakan kasih kepada sesama. Dalam semangat itulah, pada Minggu Paskah: 5 April 2026, Kelompok Kategorial Kaum Bapak Jemaat Nazaret Taum-Klasis Amanuban Selatan merayakan Paskah dengan berbagi kasih kepada 21 Kaum Papah, yakni para janda dan lansia di lingkungan jemaat.
![]() |
| Ket Foto : Pelayanan kasih Paskah menjadi kesaksian nyata di tengah jemaat. |
Kegiatan ini menjadi ungkapan syukur atas peristiwa Paskah, sekaligus kesaksian bahwa iman Kristen harus tampak dalam kepedulian yang menyentuh kehidupan orang-orang yang lemah, sederhana, dan membutuhkan perhatian.
![]() |
| Ket Foto : Pelayanan dilakukan dengan semangat kebersamaan dan perhatian kepada sesama. |
Tema Paskah tahun ini, “Kebangkitan Kristus Membaharui Kemanusiaan Kita,” memberi penegasan bahwa kebangkitan bukan hanya berita iman, tetapi juga kekuatan pembaruan hidup. Pembaruan kemanusiaan itu tampak ketika hati yang percaya digerakkan untuk melayani, berbagi, dan memulihkan martabat sesama.
![]() |
Dalam konteks pelayanan Kaum Bapak Jemaat Nazaret Taum, tema ini tidak dibiarkan tinggal sebagai slogan rohani, melainkan diwujudkan dalam aksi kasih yang sederhana namun sangat bermakna. Berbagi dengan para janda dan lansia adalah bentuk nyata dari gereja yang hadir, mendengar, dan merangkul mereka yang sering kali berada di pinggir perhatian sosial.
Pelayanan seperti ini penting karena gereja pada hakikatnya dipanggil bukan hanya untuk memberitakan Injil, tetapi juga menghadirkan kasih Kristus dalam persekutuan yang konkret. Janda dan lansia merupakan kelompok yang kerap menghadapi keterbatasan, baik secara ekonomi, fisik, maupun sosial. Karena itu, perhatian kepada mereka bukan semata-mata tindakan belas kasihan, tetapi bagian dari panggilan iman untuk memanusiakan sesama. Ketika Kaum Bapak datang berbagi kasih, yang dibawa bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga penguatan batin, rasa dihargai, dan kesadaran bahwa mereka tidak dilupakan oleh tubuh Kristus.
Hal yang patut diapresiasi ialah bahwa dana pelayanan kasih ini diperoleh dari usaha dana Kaum Bapak, kontribusi anggota Kaum Bapak, serta dukungan APBMJ Nazaret Taum. Ini menunjukkan bahwa pelayanan gereja yang berdampak lahir dari semangat kebersamaan, tanggung jawab bersama, dan kerelaan untuk berkorban. Gereja yang hidup adalah gereja yang warganya tidak hanya menunggu program, tetapi mau terlibat membangun pelayanan dari apa yang mereka miliki.
Dari sini terlihat bahwa pelayanan kasih bukan semata soal besar kecilnya bantuan, melainkan tentang ketulusan hati dan komitmen untuk menjadikan gereja relevan bagi kehidupan umat. Pelayanan seperti ini penting diangkat karena memberi pesan bahwa gereja masih memiliki daya moral dan daya sosial untuk merawat kemanusiaan. Di tengah kehidupan masyarakat yang kerap ditandai oleh individualisme, persaingan, dan kepekaan sosial yang menurun, tindakan berbagi kasih menjadi kabar baik yang menyejukkan. Gereja hadir bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai ruang pemulihan sosial. Pelayanan Kaum Bapak Jemaat Nazaret Taum memperlihatkan bahwa komunitas iman dapat menjadi teladan dalam membangun solidaritas, khususnya kepada mereka yang rentan.
Paskah pada akhirnya mengingatkan bahwa kebangkitan Kristus harus melahirkan gereja yang bangkit dari sikap pasif menuju tindakan kasih yang nyata. Karena itu, apa yang dilakukan Kaum Bapak Jemaat Nazaret Taum layak dilihat bukan hanya sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi sebagai model pelayanan yang perlu dirawat dan diteruskan. Selama gereja terus menghadirkan kasih dalam bentuk yang konkret, selama itu pula berita kebangkitan akan tetap hidup di tengah umat dan masyarakat. Paskah yang sejati adalah Paskah yang menghidupkan harapan, memulihkan relasi, dan membaharui kemanusiaan.









