Oleh : Pendeta YORIM YOSAVAT KAUSE
Tema Paskah tahun ini, “Kebangkitan Kristus Memperbaharui Kemanusiaan Kita,” bukan sekadar ajakan untuk merayakan kemenangan Kristus atas maut, tetapi panggilan iman untuk melihat kembali wajah kemanusiaan yang terluka di sekitar kita.
Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, panggilan itu terasa sangat konkret ketika masyarakat masih berhadapan dengan kemiskinan, stunting, dan gizi buruk yang belum terselesaikan. Kondisi ini menjadi ironi yang menyakitkan, sebab di tengah tanah yang dianugerahi potensi pertanian, masih banyak keluarga yang hidup dalam kekurangan dan anak-anak yang bertumbuh dalam ancaman masa depan yang rapuh.
Data Dinas Kesehatan Timor Tengah Selatan yang diberitakan pada akhir 2024 mencatat 13.441 anak menderita stunting atau sekitar 36,4 persen dari populasi sasaran. Pada saat yang sama, Timor Tengah Selatan juga berkali-kali disebut sebagai salah satu wilayah dengan beban persoalan gizi yang berat di Nusa Tenggara Timur.
Angka ini tidak boleh dilihat hanya sebagai statistik, karena di baliknya ada tubuh-tubuh kecil yang gagal tumbuh optimal, ada ibu-ibu yang cemas, dan ada keluarga-keluarga yang setiap hari berjuang dengan keterbatasan pangan dan pendapatan.
Keprihatinan itu menjadi semakin mendalam bila melihat kawasan irigasi persawahan Bena. Wilayah ini memiliki lahan persawahan sekitar 3.515 hektare yang dialiri daerah irigasi Bena dan Linamnutu, dan bahkan disebut mampu menopang budidaya padi bagi sekitar 4.200 petani. Potensi ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menitipkan sumber daya yang besar kepada masyarakat.
Namun fakta bahwa kemiskinan, stunting, dan gizi buruk masih tetap ada di tengah wilayah yang subur menandakan bahwa persoalan kita bukan semata-mata ketiadaan sumber daya, melainkan juga soal distribusi, pengelolaan, keberpihakan kebijakan, dan kesadaran kolektif untuk mengubah potensi menjadi kesejahteraan bersama.
Di sinilah pesan Paskah menjadi sangat relevan. Kebangkitan Kristus bukan hanya berita tentang hidup yang menang atas kematian, tetapi juga tentang harapan yang menolak menyerah pada keadaan.
Kristus yang bangkit memanggil gereja dan masyarakat untuk memperbaharui kemanusiaan: menegakkan martabat orang miskin, melindungi anak-anak dari gizi buruk, dan memastikan bahwa tanah yang subur benar-benar menjadi sumber kehidupan. Iman Paskah tidak boleh berhenti pada altar dan mimbar; ia harus turun ke sawah, ke rumah tangga yang kekurangan, ke meja makan yang kosong, dan ke tubuh anak-anak yang membutuhkan perhatian gizi yang serius.
Karena itu, refleksi Paskah tahun ini semestinya menggugah semua pihak. Pemerintah tidak cukup hanya menghitung angka kemiskinan dan stunting, tetapi harus memastikan intervensi yang tepat sasaran pada keluarga rentan, penguatan layanan kesehatan dasar, akses gizi, air bersih, sanitasi, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Para petani dan kelompok masyarakat juga perlu didorong agar hasil pertanian tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi berkembang menjadi kekuatan ekonomi rumah tangga yang berdampak pada kualitas hidup keluarga. Ketika lahan 3.515 hektare itu dikelola dengan visi keadilan sosial, maka sawah tidak hanya menghasilkan beras, tetapi juga harapan bagi generasi yang lebih sehat dan bermartabat.
Dengan demikian, Paskah tidak hanya dikenang sebagai perayaan kemenangan Kristus atas maut, tetapi juga dihidupi sebagai gerakan pembaruan kemanusiaan. Gereja akan menjadi saksi kebangkitan yang sejati ketika ia berani mengurangi kemewahan sesaat demi menghadirkan harapan yang nyata bagi mereka yang lapar, miskin, dan rentan.
Kebangkitan Kristus seharusnya mendorong gereja untuk bertobat dari cara merayakan Paskah yang lebih menonjolkan kebanggaan seremoni daripada kepedulian sosial. Sebagian energi, kreativitas, dan anggaran gereja semestinya diarahkan pada program yang benar-benar menyentuh kehidupan umat, seperti dukungan gizi bagi anak-anak, pendampingan keluarga miskin, pelayanan kasih bagi lansia dan janda, serta pemberdayaan ekonomi jemaat di wilayah-wilayah potensial seperti kawasan irigasi persawahan Bena.
Di tengah kenyataan bahwa hampir seperempat penduduk Timor Tengah Selatan masih hidup dalam kemiskinan dan angka stunting masih sangat tinggi, perayaan Paskah yang terlalu seremonial dan menghabiskan banyak dana patut dikritisi secara jujur. Panggung yang megah, dekorasi yang mahal, pakaian seragam yang berlebihan, dan konsumsi besar-besaran dapat membuat gereja lupa bahwa di luar gedung ibadah masih ada keluarga yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan ada anak-anak yang bertumbuh dalam kekurangan gizi.
Gereja memiliki tanggung jawab profetis dalam keadaan ini. Gereja tidak hanya dipanggil untuk berkhotbah tentang kebangkitan, tetapi juga untuk menjadi tanda kebangkitan itu di tengah masyarakat. Artinya, gereja harus hadir dalam pendidikan keluarga, pendampingan gizi, penguatan solidaritas jemaat, dan kerja sama lintas sektor untuk menolong mereka yang paling rentan. Gereja yang setia pada Kristus yang bangkit adalah gereja yang menangis bersama mereka yang lapar, bekerja bersama mereka yang miskin, dan berharap bersama mereka yang hampir putus asa.
Pada akhirnya, kebangkitan Kristus memperbaharui kemanusiaan kita ketika iman diterjemahkan menjadi keberpihakan. Paskah mengingatkan bahwa tidak boleh ada anak yang kehilangan masa depan karena gizi buruk di tanah yang sesungguhnya kaya; tidak boleh ada keluarga yang terus terpuruk di tengah potensi pertanian yang besar; dan tidak boleh ada gereja yang diam ketika kemanusiaan sedang terluka. Dari Timor Tengah Selatan, khususnya dari kawasan persawahan Bena, refleksi ini memanggil semua orang untuk menjadikan Paskah bukan hanya perayaan kemenangan Kristus, tetapi juga gerakan bersama untuk memulihkan kehidupan manusia secara utuh. Salam Paskah!

