Di Indonesia, berita dari Jakarta hampir selalu sampai ke Nusa Tenggara Timur pada hari yang sama. Masyarakat di Maumere, Ende, Larantuka, Ruteng, Kupang, Atambua, maupun Waingapu dapat mengetahui perkembangan politik nasional, kemacetan ibu kota, banjir di Jabodetabek, pergantian pejabat, hingga berbagai peristiwa sosial yang terjadi di Jakarta hanya dalam hitungan menit.
Namun keadaan sebaliknya tidak selalu terjadi.
Ketika terjadi peristiwa penting di Flores, Lembata, Alor, atau Timor, tidak semua masyarakat Jakarta mengetahuinya. Bahkan tidak sedikit peristiwa besar di NTT yang hanya menjadi konsumsi media lokal dan luput dari perhatian nasional.
Ketimpangan ini bukan sekadar soal media. Ia mencerminkan cara Indonesia memandang dirinya sendiri.
Jakarta sering diposisikan sebagai pusat informasi nasional. Apa yang terjadi di sana dianggap penting bagi seluruh Indonesia. Sebaliknya, apa yang terjadi di daerah sering dianggap hanya penting bagi daerah itu sendiri.
Akibatnya terbentuk situasi yang unik. Orang NTT sering kali mengetahui perkembangan Jakarta lebih baik daripada orang Jakarta mengetahui perkembangan NTT.
Seorang warga Maumere mungkin mengetahui nama menteri baru, perkembangan MRT Jakarta, atau banjir di Bekasi. Namun belum tentu seorang warga Jakarta mengetahui bahwa Gunung Lewotobi pernah beberapa kali mengalami erupsi besar, bahwa terdapat sengketa tanah Nangahale yang berakar sejak masa kolonial, atau bahwa ribuan warga Flores setiap tahun terlibat dalam tradisi Sambut Baru yang menjadi bagian penting dari kehidupan Katolik lokal.
Padahal NTT bukanlah wilayah pinggiran dalam sejarah Indonesia.
Dari Flores lahir tokoh-tokoh nasional, intelektual, rohaniwan, diplomat, seniman, dan profesional yang berkontribusi bagi bangsa. Laut Sawu menjadi salah satu kawasan konservasi penting dunia. Flores menyimpan situs manusia purba yang dikenal secara internasional. Timor memiliki sejarah politik yang memengaruhi hubungan Indonesia dengan dunia internasional. Namun berbagai kisah tersebut sering kalah oleh dominasi arus informasi dari pusat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ketimpangan pembangunan tidak hanya terjadi dalam bidang ekonomi dan infrastruktur. Ketimpangan juga terjadi dalam distribusi perhatian.
Sebagian daerah terus-menerus menjadi objek pemberitaan, sementara daerah lain harus menunggu bencana, konflik, atau peristiwa luar biasa agar dilirik media nasional.
Ironisnya, di era digital yang disebut mampu menghapus batas geografis, ketimpangan informasi itu masih terasa. Teknologi membuat berita bergerak lebih cepat, tetapi tidak selalu membuat perhatian menjadi lebih merata.
Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan hanya membangun jalan, pelabuhan, atau jaringan internet hingga ke pelosok. Tantangan yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran bahwa Indonesia tidak berhenti di Jakarta.
Apa yang terjadi di Maumere penting bagi Jakarta. Apa yang terjadi di Larantuka penting bagi Surabaya. Apa yang terjadi di Alor penting bagi Bandung. Dan apa yang terjadi di Rote juga merupakan bagian dari cerita Indonesia.
Selama berita dari Jakarta selalu dianggap berita nasional, sementara berita dari daerah dianggap berita lokal, ketimpangan informasi akan terus berlangsung.
Indonesia yang benar-benar setara bukanlah Indonesia yang hanya membuat daerah mengetahui Jakarta, melainkan Indonesia yang juga membuat Jakarta mengenal daerah-daerahnya dengan baik.
Sebab bangsa yang besar tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh pusat dikenal oleh daerah, tetapi juga oleh seberapa jauh pusat mengenal seluruh bagian dari dirinya sendiri.

