"Anak-anak Kristen harus menjadi pribadi yang berhikmat, menjadi Pancasilais, mampu hidup berdampingan dengan bangsa-bangsa lain, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Kristiani," ujarnya.
Ia menekankan bahwa penguatan literasi dan numerasi harus menjadi perhatian utama seluruh sekolah karena kedua kemampuan tersebut merupakan fondasi bagi peningkatan mutu pendidikan.
"Kita harus mempersiapkan literasi dan numerasi anak-anak dengan kuat. Itu menjadi bekal penting agar mereka mampu menghadapi perkembangan zaman," katanya.
Dalam kesempatan itu, Ketua Sinode mengajak seluruh pengelola sekolah melakukan evaluasi terhadap perkembangan sekolah-sekolah GMIT.
"Dulu sekolah-sekolah GMIT menjadi pilihan utama masyarakat. Namun sekarang pilihan sekolah semakin banyak. Karena itu kita harus berani bertanya, apa yang perlu dibenahi? Apakah tata kelola, fasilitas, mutu pembelajaran, atau pelayanan kita?" ungkapnya.
Ia mencontohkan bahwa sejumlah sekolah GMIT di daerah minoritas seperti Ende, Timor Tengah Utara, Alor, Rote, dan Sabu Raijua justru mampu menunjukkan prestasi yang membanggakan. Bahkan, beberapa yayasan pendidikan telah berhasil membangun kemandirian dalam pembiayaan operasional sekolah.
"Ini membuktikan bahwa jika dikelola dengan baik, sekolah-sekolah kita mampu berkembang dan memperoleh kepercayaan masyarakat," ujarnya.
Menurut Pdt. Semuel, kualitas peserta didik sangat ditentukan oleh kualitas guru.
"Kalau anak-anak kita hebat, itu adalah cerminan dari guru-gurunya. Karena itu peningkatan kapasitas guru harus menjadi perhatian bersama," tegasnya.
Ia juga menyampaikan komitmen Sinode GMIT agar pada tahun 2028 sekolah-sekolah GMIT semakin mandiri, baik dari sisi tata kelola maupun pembiayaan, sehingga siap menghadapi sistem sentralisasi pengelolaan sekolah.
"Kita ingin pada tahun 2028 sekolah-sekolah GMIT semakin mandiri. Ke depan, GMIT tidak hanya mampu membiayai pelayanan gereja, tetapi juga mampu memperhatikan kesejahteraan para guru. Pendidikan harus menjadi kekuatan pelayanan gereja," katanya.
Ketua Sinode turut mengapresiasi penyelenggaraan Dialog Pendidikan Kristen karena menjadi ruang bersama untuk melahirkan berbagai gagasan inovatif bagi kemajuan pendidikan.
Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) bersama Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun pendidikan Kristen yang berkualitas. Komitmen tersebut mengemuka dalam Dialog Pendidikan bertajuk "Gerakan Inovasi Pendidikan Kristen" yang diselenggarakan oleh Keluarga Peduli Pendidikan Kristen (KP2K) di GMIT Nazaret Oe’ekam, Klasis Amanuban Timur.
Kegiatan yang mengusung tema "Gerakan Inovasi Pendidikan Kristen" itu menghadirkan Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard M. Lioe, S.IP., S.H., M.H. , Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel Pandie, S.Th, Penasehat KP2K, R. Bernadeth Samosir, S.H., M.H. , Ketua KP2K Dr. David Natun, serta dipandu oleh Dr. F. Ch. Liufeto, S.Pi., M.Si. Dialog tersebut diikuti para pendeta, pengurus yayasan pendidikan, kepala sekolah, guru, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap kemajuan pendidikan Kristen.
Dalam arahannya, Bupati TTS Eduard M. Lioe menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai sejak anak-anak berada pada usia dini. Menurutnya, para guru memegang peranan penting dalam membentuk generasi yang berkarakter, cerdas, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
"Kita harus mempersiapkan anak-anak kita dengan sebaik-baiknya sejak usia dini. Mereka harus memiliki kompetensi dan karakter yang kuat agar mampu bersaing di mana pun, termasuk memanfaatkan peluang pendidikan di SMA Garuda yang kini hadir di Kabupaten Timor Tengah Selatan," ujar Bupati.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan akan terus memberikan perhatian terhadap pembangunan sektor pendidikan, baik melalui peningkatan infrastruktur, penyediaan sarana dan prasarana, maupun peningkatan mutu layanan pendidikan.
Menurutnya, upaya meningkatkan kualitas pendidikan tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, gereja, yayasan pendidikan, tenaga pendidik, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat.
"Bukan hanya Yayasan Pendidikan GMIT, tetapi seluruh yayasan pendidikan yang melayani masyarakat harus menjadi mitra pemerintah. Melalui dialog seperti ini kita membangun komunikasi dan mencari solusi bersama demi kemajuan pendidikan di Kabupaten Timor Tengah Selatan," katanya.
Bupati juga mengingatkan bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2025, Aparatur Sipil Negara (ASN) kini dapat diperbantukan pada sekolah swasta. Kebijakan tersebut, menurutnya, menjadi peluang untuk memperkuat mutu pendidikan apabila diikuti komunikasi yang baik antara pemerintah daerah dan yayasan pendidikan.
"Kalau ada persoalan, mari kita duduk bersama. Bangun komunikasi yang baik sehingga kita bisa saling membantu dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah ini," tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh komponen pendidikan, mulai dari jenjang PAUD/TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga perguruan tinggi, untuk bersatu dalam membangun pendidikan yang lebih berkualitas demi mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Di akhir sambutannya, Bupati memberikan apresiasi kepada KP2K atas inisiatif menyelenggarakan Dialog Pendidikan Kristen yang dinilainya sebagai langkah strategis dalam membangun sinergi lintas sektor.
"Saya mengapresiasi KP2K yang telah menggagas dialog ini. Ini merupakan bentuk kolaborasi yang sangat baik dan perlu terus dilanjutkan demi kemajuan pendidikan kita," ungkapnya.
Penasehat KP2K, R. Bernadeth Samosir, S.H., M.H, dalam paparannya mengajak seluruh masyarakat untuk mengambil bagian dalam mendukung pendidikan anak-anak.
"Investasi terbaik adalah pendidikan. Hanya melalui pendidikan anak-anak dapat meraih masa depan yang lebih baik. Karena itu semua pihak harus berpartisipasi dalam mendukung mereka," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi proses belajar anak, membangun karakter, dan memberikan motivasi agar mereka terus bersemangat mengejar cita-cita.
Sementara itu, Ketua KP2K, Dr. David Natun, menjelaskan bahwa Dialog Pendidikan Kristen diselenggarakan untuk membangun partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan Kristen.
Menurutnya, dialog membahas berbagai isu strategis, mulai dari tata kelola manajemen sekolah, pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap perubahan zaman, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, penyediaan infrastruktur pendidikan, hingga penguatan literasi dan numerasi.
"Kita ingin membangun kesadaran bahwa persoalan pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau yayasan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Semoga semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk ikut mengambil bagian demi melahirkan generasi emas Indonesia tahun 2045," katanya.
David juga menegaskan bahwa keterlibatan orang tua menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan. Ia mengajak seluruh orang tua memperhatikan pemenuhan gizi anak, membangun kebiasaan belajar di rumah, serta memberikan dukungan penuh terhadap pendidikan mereka.
"Investasi terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak adalah pendidikan. Pengorbanan hari ini akan menjadi keberhasilan mereka di masa depan," ujarnya.
Selain Dialog Pendidikan, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Baca dan Gali Isi Alkitab, pelatihan life skill untuk mendorong kemandirian ekonomi, serta ibadah penyegaran iman.
Mengangkat tema dari Amsal 1:7, "Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan." seluruh rangkaian kegiatan menjadi ajakan kepada seluruh komponen masyarakat untuk membangun pendidikan Kristen melalui kolaborasi, inovasi, penguatan karakter, literasi, numerasi, serta peningkatan kualitas guru demi melahirkan generasi yang unggul, beriman, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Menutup kegiatan tersebut, Ketua KP2K menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Sinode GMIT, Yayasan Pendidikan Kristen, para narasumber, peserta, dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Dialog Pendidikan Kristen. Ia berharap gerakan kolaboratif seperti ini terus berlanjut sebagai langkah nyata mewujudkan pendidikan Kristen yang semakin bermutu, mandiri, dan berdaya saing.
