Di Balik Kepala yang Tertunduk, Ada Anak yang Ingin Membaca



Oleh: Sri Julianti Djami, S.Pd., Gr.
Guru SDI Tepas, Kabupaten Timor Tengah Selatan

Ketika seorang anak kelas VI diminta membaca, ia justru menundukkan kepala. Bukan karena tidak mau belajar. Bukan pula karena tidak memiliki kemampuan untuk memahami pelajaran. Ia hanya tampak takut. Takut salah mengeja, takut berhenti terlalu lama, dan mungkin takut mendengar tawa teman-temannya ketika satu kata tidak berhasil ia baca dengan benar. Saya pernah berada dalam situasi itu.

Sebagai guru, pemandangan tersebut sempat membuat saya bertanya-tanya. Bagaimana mungkin seorang anak kelas VI masih harus mengeja kata demi kata? Mengapa ia begitu lama ketika berhadapan dengan sebuah kalimat? Dan yang paling penting, apa yang sebenarnya terjadi di balik kepala yang selalu tertunduk itu? Pertanyaan terakhir kemudian mengubah cara saya melihat anak tersebut.

Bukan Tidak Mau, Mungkin Ia Takut

Dalam pembelajaran, kemampuan membaca sering kali menjadi salah satu pintu utama untuk memahami berbagai pengetahuan. Ketika kemampuan membaca belum berkembang dengan baik, anak dapat mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran yang menggunakan teks sebagai sumber informasi. Namun, kesulitan membaca tidak selalu berarti anak tidak mampu belajar.

Anak yang saya dampingi justru menunjukkan hal tersebut. Ketika guru menjelaskan materi secara lisan, ia dapat mengikuti pembelajaran. Ia mampu memahami penjelasan dan memberikan respons. Ia memiliki kemauan untuk belajar. Persoalannya muncul ketika ia harus berhadapan dengan tulisan.

Setiap kali menemukan kata yang dianggap sulit, ia berhenti. Ketika diminta membaca di depan kelas, ia tampak gugup. Kesalahan kecil seolah menjadi sesuatu yang sangat besar baginya.

Dari sana saya menyadari satu hal: mungkin selama ini kita terlalu cepat melihat kesalahan anak, tetapi terlalu lambat memahami alasan di balik kesalahan itu.

Anak yang belum lancar membaca tidak selalu membutuhkan teguran lebih keras. Bisa jadi ia membutuhkan pendekatan yang lebih tepat.

Ketika Guru Mengubah Cara Mendampingi

Saya kemudian mencoba mengubah cara mendampinginya. Saya tidak ingin kemampuan membaca menjadi pengalaman yang membuatnya semakin kehilangan kepercayaan diri. Saya juga tidak ingin ia merasa bahwa setiap membuka buku berarti harus bersiap menghadapi rasa malu karena salah. Karena itu, saya mulai dari hal-hal sederhana.

Kami membaca kata-kata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setelah mulai terbiasa, kami beralih ke kalimat pendek. Kemudian perlahan menuju paragraf dan bacaan yang lebih panjang. Saya tidak mengejar kecepatan.

Untuk sementara, saya tidak terlalu mempermasalahkan apakah ia membaca secepat teman-temannya. Saya lebih ingin memastikan satu hal: ia berani mencoba.

Ketika salah, ia saya beri kesempatan untuk mengulang. Ketika berhenti, saya menunggunya. Ketika berhasil, saya memberikan apresiasi.

“Kamu sudah lebih baik hari ini.”

“Coba lagi, kamu pasti bisa.” Kalimat-kalimat sederhana itu ternyata memiliki arti yang besar.

Sebab, bagi anak yang sudah takut salah, satu kalimat yang memberi keyakinan dapat menjadi alasan untuk mencoba sekali lagi.

Keberanian Datang Sebelum Kelancaran

Perubahan tidak terjadi secara ajaib. Tidak dalam satu hari. Tidak pula dalam satu atau dua kali latihan. Namun, sedikit demi sedikit, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Ia mulai mengenali lebih banyak kata. Ia mulai berani membaca kalimat. Ketika menemukan kata yang sulit, ia tidak lagi langsung menyerah. Ia mencoba mengeja kembali.

Yang paling menggembirakan bukan hanya karena bacaannya menjadi lebih lancar, tetapi karena rasa takutnya mulai berkurang.

Ia mulai tersenyum ketika berhasil.

Ia mulai berani mencoba.

Ia mulai percaya bahwa dirinya juga bisa.

Bagi sebagian orang, perubahan itu mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi saya sebagai guru, perubahan tersebut sangat berarti.

Sebab, dalam proses belajar, kemajuan seorang anak tidak selalu harus diukur dari seberapa jauh ia mampu melampaui temannya. Kadang-kadang, kemajuan terbesar adalah ketika ia berhasil melampaui rasa takutnya sendiri.

Jangan Jadikan Kesalahan Sebagai Hukuman

Pengalaman tersebut membuat saya semakin berhati-hati dalam memperlakukan kesalahan anak. Kesalahan dalam belajar seharusnya tidak otomatis menjadi alasan untuk mempermalukan. Justru dari kesalahan itulah guru dapat mengetahui bagian mana yang belum dipahami anak dan menentukan pendampingan berikutnya.

Jika setiap kesalahan dibalas dengan kemarahan, anak bisa belajar satu hal yang keliru: bahwa mencoba adalah sesuatu yang berbahaya.

Sebaliknya, jika kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar, anak akan memiliki ruang untuk mencoba, memperbaiki, dan mencoba kembali. Dalam pembelajaran membaca, ruang aman seperti ini sangat penting.

Guru perlu menciptakan suasana di mana anak tidak takut mengatakan, “Saya belum bisa.” Sebab, ketika seorang anak berani mengakui bahwa ia belum bisa, sesungguhnya ia sedang membuka pintu untuk belajar.

Setiap Anak Memiliki Jalan Belajarnya Sendiri

Pengalaman mendampingi anak tersebut juga mengingatkan saya untuk tidak membandingkan perjalanan belajar seorang anak dengan anak lainnya.

Di dalam satu kelas, kita mungkin menemukan anak yang dapat membaca dengan lancar, sementara di sisi lain ada anak yang masih mengeja. Ada yang cepat memahami bacaan, ada pula yang membutuhkan pengulangan berkali-kali. Perbedaan itu bukan alasan untuk menyerah. Justru di situlah guru dituntut untuk mengenali kebutuhan setiap anak.

Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membaca situasi belajar anak. Guru perlu bertanya: Apa yang membuat anak ini kesulitan? Apakah ia tidak memahami materi, atau ia belum menemukan cara belajar yang sesuai? Apakah ia tidak mau mencoba, atau sebenarnya ia takut mencoba?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membawa guru pada pendekatan yang berbeda. Karena terkadang, yang perlu diubah bukan anaknya, melainkan cara kita mendampinginya.

Dari Membaca Kata Menuju Membaca Diri Sendiri

Bagi saya, mengajarkan membaca bukan sekadar membuat anak mampu mengucapkan kata-kata yang tertulis di halaman buku.

Lebih dari itu, membaca adalah proses membangun keberanian untuk berhadapan dengan sesuatu yang belum diketahui.

Anak belajar mengenali huruf, menyusun kata, memahami kalimat, lalu menemukan makna. Pada saat yang sama, ia juga sedang belajar mengenali dirinya sendiri: bahwa ia boleh salah, boleh mencoba lagi, dan boleh membutuhkan waktu lebih lama daripada orang lain. Karena itu, keberhasilan membaca tidak selalu dimulai dari halaman pertama sebuah buku.

Kadang-kadang, keberhasilan itu dimulai dari keberanian seorang anak untuk mengangkat kepalanya. Dari keberanian membuka buku. Dari keberanian mengeja satu kata. Dari keberanian mengatakan, “Saya mau mencoba.”

Kepala yang Terangkat, Harapan yang Tumbuh

Saya tidak tahu seberapa cepat anak tersebut nantinya akan mencapai kelancaran membaca seperti yang diharapkan. Namun, saya percaya bahwa setiap kemajuan yang ia capai hari ini adalah pijakan untuk langkah berikutnya.

Saya juga semakin memahami bahwa menjadi guru bukan hanya tentang membuat anak mengetahui apa yang belum diketahuinya. Menjadi guru adalah tentang menemani anak menemukan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar. Mungkin bagi kita, satu kata yang berhasil dibaca bukanlah pencapaian besar.

Tetapi bagi seorang anak yang sebelumnya takut membuka suara, satu kata itu bisa menjadi awal dari keberanian yang lebih panjang.

Maka, ketika suatu hari kita melihat seorang anak menundukkan kepala saat diminta membaca, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia malas, tidak mampu, atau tidak mau belajar. Barangkali, di balik kepala yang tertunduk itu ada seorang anak yang sebenarnya ingin membaca.

Ia hanya sedang menunggu seseorang yang tidak menertawakannya ketika salah.

Ia sedang menunggu guru yang bersedia berkata: “Tidak apa-apa kalau belum bisa. Kita coba lagi. Pelan-pelan. Saya akan menemanimu.”

Dan mungkin, dari kalimat sederhana itulah, sebuah kepala yang selama ini tertunduk perlahan terangkat.

Sebuah buku kembali terbuka.

Sebuah kata mulai terbaca.

Dan di sana, sebuah keberanian sedang tumbuh.*

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2020 soepost.com ™ Member Of Kupang Online Network ®