TANGAN YANG MEMBAWA AIR


Membaca Kembali Air Berubah Menjadi Anggur dari Mereka yang Melayani

Oleh :
Debbie Marleni Sodakain
Pendeta GMIT di Mollo Barat
e-Mail: dmsodakain@gmail.com

Perayaan enam puluh tahun Peristiwa Air Berubah Menjadi Anggur membawa banyak orang kembali kepada sebuah ingatan iman yang telah lama hidup di SoE. Cerita kembali dituturkan, doa dinaikkan dan generasi yang tidak mengalami masa itu ikut menerimanya sebagai warisan. Ada syukur, kekaguman, juga kerinduan agar karya Allah yang dipercaya pernah dialami generasi terdahulu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Saya ikut menghargai ingatan itu. Namun pikiran saya justru pergi kepada keadaan yang sangat biasa setelah perayaan selesai. Kursi dirapikan, mikrofon dimatikan, orang orang pulang. Besok pagi kehidupan kembali berjalan. Ada yang pergi ke kebun, mengantar anak ke sekolah, masuk kantor, mencari air, atau kembali melayani. Di situlah satu pertanyaan kecil terus mengganggu saya : setelah semua yang kita rayakan, apa yang sebenarnya tinggal dalam diri kita?

Pertanyaan itu semakin kuat ketika saya membaca opini berjudul “Merawat Ingatan, Merawat Kehidupan” yang dimuat di Pos Kupang/Tribunnews dan merefleksikan Peristiwa Air Berubah Menjadi Anggur. Tulisan itu membawa satu kegelisahan yang sulit saya lewatkan : gereja dapat begitu tekun menjaga ingatan tentang air yang dipercaya berubah menjadi anggur, tetapi pada saat yang sama perlu terus bertanya seberapa sungguh ingatan tersebut menolong kita merawat kehidupan hari ini. Bagi saya, kegelisahan itu layak diteruskan. Persoalannya bukan memilih antara mengenang mukjizat dan merawat kehidupan. Justru karena kita percaya Allah bekerja, ingatan tentang karya Nya seharusnya membuat kita semakin sungguh menjaga kehidupan yang dikasihi Nya.

1.          Siapa yang Membawa Air?

Enam puluh tahun lebih bukan waktu yang pendek bagi sebuah cerita. Sebagian orang yang mengalami masa itu mungkin telah tiada, tetapi cerita terus berjalan dari rumah ke gereja dan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ingatan tidak hanya menjaga cerita. Ia juga ikut membentuk orang yang mengingatnya. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apakah cerita tersebut masih hidup, melainkan manusia seperti apa yang sedang dibentuk olehnya?

Kwok Pui Lan menolong saya melihat bahwa ketika sebuah cerita besar diwariskan, kita juga perlu bertanya tentang mereka yang tidak banyak terdengar di dalamnya. Melalui pengalaman perempuan Asia, Kwok mengingatkan bahwa sejarah dan teologi juga menyimpan pertanyaan tentang siapa yang berbicara dan siapa yang didengar (Kwok, 2005). Pikiran itu membuat saya bertanya: siapa yang menjaga cerita di rumah, tetap berdoa tanpa berdiri di mimbar, menyiapkan makanan, menerima tamu, menjaga anak, atau mengerjakan pekerjaan kecil yang membuat kehidupan terus berjalan?

Saya tidak tahu apakah semua suara itu telah cukup tercatat dan tidak mempunyai dasar untuk mengatakan bahwa mereka sengaja disingkirkan. Justru karena tidak mengetahui semuanya, kita perlu rendah hati. Mengingat dengan jujur juga berarti bersedia mendengar mereka yang mungkin belum cukup terdengar.

Dari sana pikiran saya berhenti pada air. Air diminum, dipakai memasak, dibawa pulang, dicari ketika sumber mengering dan dibutuhkan agar kebun tetap hidup. Bagi mereka yang mendapatkannya dengan mudah, air barangkali hanya sesuatu yang mengalir. Bagi orang yang harus berjalan mencarinya, air mempunyai berat. Berat itu terasa pada tangan, bahu, waktu, bahkan tubuh yang pulang dalam keadaan lelah. Tangan itu dapat menjadi tangan perempuan, laki laki, anak, atau siapa saja yang mengerjakan sesuatu agar kehidupan tetap berjalan.

Kenyataan itu bukan sekadar metafora. Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada 2025 sebanyak 71,69 persen rumah tangga di Timor Tengah Selatan memiliki akses terhadap sumber air minum layak (Badan Pusat Statistik, 2026). Angka tidak dapat menceritakan seluruh pengalaman sebuah keluarga, tetapi ia mengingatkan bahwa percakapan tentang air di tanah ini selalu mempunyai hubungan dengan kehidupan nyata. Barangkali teologi tentang air juga perlu sesekali mendengar tubuh yang memikul beratnya.

2.          Tangan yang Melayani, Bukan Mencari                   Panggung.

Pikiran tentang tangan yang membawa air membuat saya membaca kembali kisah Kana dalam Yohanes 2. Pusat cerita itu tentu Yesus yang melalui tanda tersebut menyatakan kemuliaan Nya sehingga para murid percaya kepada Nya (Yoh. 2:11). Namun mata saya juga tertahan pada para pelayan. Mereka mengisi tempayan, mencedok, lalu membawa apa yang diperintahkan. Tangan mereka berada dekat dengan sebuah tanda besar, tetapi tidak berusaha menjadi besar karenanya. Hamba adalah orang yang tangannya bekerja, tetapi tidak merasa dirinya pusat pekerjaan Allah.

Pelajaran itu tidak selalu mudah ketika dibawa masuk ke gereja. Persekutuan Doa mempunyai karunia, majelis memikul tanggung jawab, pendeta menerima kepercayaan untuk melayani dan jemaat memiliki pemberian yang beragam. Semuanya diperlukan. Persoalan muncul ketika tangan yang semula melayani mulai ingin ditonton, karunia membuat kita merasa lebih rohani, atau jabatan diam diam membuat kita merasa lebih penting. Ibadah dan kegiatan dapat tetap ramai, tetapi keramaian belum tentu menandakan kehambaan sedang sehat.

Letty M. Russell membayangkan gereja sebagai persekutuan di sekitar meja, tempat kepemimpinan berarti bekerja bersama, berbagi dan menyediakan ruang bagi sesama (Russell, 1993). Gereja tentu membutuhkan struktur, jabatan, aturan dan kepemimpinan. Persoalannya bukan siapa yang berdiri di depan. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi kepada orang lain karena kita berdiri di sana. Apakah kita sedang memperpanjang meja atau meninggikan panggung?

Pertanyaan itu mudah diarahkan kepada orang lain. Persekutuan Doa dapat memakainya untuk memeriksa struktur, struktur dapat mengarahkannya kembali, pendeta dapat menyampaikannya kepada jemaat, sedangkan jemaat diam diam berharap pendetanya juga mendengar khotbahnya sendiri. Rupanya kita cukup pandai menyediakan cermin bagi orang lain.

Saya pun tidak berdiri di luar cermin itu. Pertanyaan pertama harus kembali kepada diri sendiri: apakah karunia, jabatan, pengalaman rohani dan kewenangan yang dipercayakan kepada saya membuat Kristus semakin terlihat, atau justru membuat saya semakin ingin terlihat?

3.          Ketika Tangan Menyentuh Kehidupan

Kebangunan rohani membawa gereja kepada syukur, doa, pertobatan, pembaruan iman dan pengharapan. Saya tidak ingin menguranginya menjadi kegiatan sosial. Namun justru karena hati disentuh Allah, kita perlu bertanya apakah mata menjadi lebih peka melihat luka, telinga lebih sabar mendengar, tangan lebih ringan menolong dan kuasa membuat kita semakin rendah hati.

Mercy Amba Oduyoye berbicara dari pengalaman perempuan Afrika dan memberi tempat penting kepada kehidupan sehari hari dalam berteologi (Oduyoye, 2001). Afrika tentu bukan Timor. Pengalamannya tidak dapat begitu saja dipindahkan ke Mollo, Amanuban, atau Amanatun. Namun satu pertanyaannya pantas kita bawa ke sini: apakah teologi sungguh mendengarkan kehidupan orang yang menjalani iman itu?

Iman di Timor tidak hanya hidup di mimbar. Ia juga hidup di rumah, kebun, pasar, sekolah, sumur dan meja makan. Kita mudah terpukau oleh pekerjaan yang mengubah keadaan dalam sekejap, padahal sebagian besar kehidupan bertahan karena ada orang yang setiap hari mengerjakan hal kecil dengan setia. Kita tidak melayani untuk membuktikan bahwa kita lebih beriman. Kita melayani karena percaya bahwa hidup kita sendiri terlebih dahulu ditopang oleh kasih karunia. Hati yang disentuh Allah seharusnya membuat tangan kita lebih mudah menyentuh kehidupan yang terluka.

Gereja perlu menghitung kehadiran, kegiatan, persembahan, anggaran dan program sebagai bentuk pertanggungjawaban. Banyak pelayanan gereja juga telah menyentuh kehidupan nyata. Namun ada hal yang tidak selalu masuk ke tabel laporan: keluarga yang hampir menyerah tetapi menemukan teman berjalan, anak yang tetap dapat bersekolah, atau relasi yang perlahan dipulihkan. Kita perlu menghitung kegiatan. Tetapi sesekali kita juga perlu bertanya: adakah luka yang berkurang?

4.          Tangan yang Menjaga Kehidupan

Tidak semua luka masyarakat dapat dibebankan kepada gereja. Ada tanggung jawab negara yang tidak boleh dialihkan menjadi sekadar amal, ada tanggung jawab keluarga dan masyarakat yang tidak dapat seluruhnya diserahkan kepada pemerintah dan ada panggilan gereja yang tidak selesai hanya dengan mengatakan bahwa persoalan sosial adalah urusan negara. Di tengah pembagian tanggung jawab itu, gereja jangan kehilangan kemampuan melihat manusia. Gereja tidak harus mampu menyembuhkan semua luka, tetapi jangan sampai ada orang terluka di dekatnya dan merasa tidak seorang pun melihat.

Pada akhirnya perayaan selesai. Kursi dirapikan, mikrofon dimatikan, lalu kita pulang. Kehidupan esok hari kembali menunggu. Ketika kemeriahan telah berlalu, pertanyaannya bukan hanya apakah kita masih mengingat Peristiwa Air Berubah Menjadi Anggur.

Tangan seperti apa yang kita bawa pulang?

Saya berharap tangan itu tidak lagi sama. Tidak harus mampu mengerjakan hal besar. Cukuplah menjadi tangan yang lebih ringan menolong, tidak cepat menunjuk orang lain, bersedia bekerja meskipun tidak selalu dilihat dan memahami bahwa kuasa yang dipercayakan bukan untuk menggenggam manusia semakin erat.

Mukjizat boleh menjadi cerita yang kita warisi. Tetapi cara kita memperlakukan manusia adalah cerita yang sedang kita tulis. Barangkali di situlah perayaan menemukan maknanya. Kita pulang bukan hanya membawa cerita tentang apa yang dipercaya pernah Allah kerjakan, tetapi juga pertanyaan tentang apa yang akan kita kerjakan karena mempercayainya.

Tangan yang pernah terangkat dalam doa seharusnya tidak menjadi asing ketika harus terulur kepada sesama. Karya Allah tidak menjadi lebih besar karena kita ramai membelanya. Barangkali kesaksian yang paling jujur justru terlihat dari kehidupan yang kita jaga karena percaya kepada Nya.

Daftar Rujukan : 

Badan Pusat Statistik. (2026). Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air minum layak menurut kabupaten/kota (persen), 2025. Badan Pusat Statistik

Kwok, P. L. (2005). Postcolonial imagination and feminist theology. Westminster John Knox Press.

Oduyoye, M. A. (2001). Introducing African women's theology. Sheffield Academic Press.

Russell, L. M. (1993). Church in the round: Feminist interpretation of the church. Westminster John Knox Press.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2020 soepost.com ™ Member Of Kupang Online Network ®