Diselenggarakan dengan dukungan Program WE NEXUS oleh Yayasan CIS Timor Indonesia bersama Save the Children Indonesia, serta dukungan UN Women dan KOICA, festival ini menjadi momentum penting bagi Kabupaten Timor Tengah Selatan dalam menghadirkan ruang publik yang inklusif dan edukatif.
Puncak kegiatan pada 28 Maret 2026 dihadiri masyarakat dari berbagai desa di Kecamatan Kolbano dan wilayah sekitarnya. Salah satu momen yang paling menyentuh adalah penampilan Natoni Perdamaian oleh perempuan dan orang muda dari Desa Spaha, Oetuke, dan Tuapakas. Melalui tradisi tutur adat ini, mereka menyuarakan pesan kuat tentang pentingnya hidup damai dalam keluarga dan lingkungan.
Tak hanya itu, festival juga menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak melalui lomba mewarnai dan pertunjukan tari kreasi, sekaligus mempertegas pentingnya keterlibatan anak dalam ruang publik yang aman dan positif.
Dari sisi ekonomi, festival ini turut memberikan dampak nyata. Puluhan pelaku UMKM lokal yang terlibat berhasil meraup keuntungan hingga Rp10 juta selama kegiatan berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa festival tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat.
Ruang diskusi publik juga dihadirkan melalui talkshow yang melibatkan pemerintah dan komunitas desa. Diskusi ini menjadi wadah berbagi praktik baik dalam membangun perdamaian berkelanjutan yang dipimpin oleh perempuan dan generasi muda, baik di Kabupaten Timor Tengah Selatan maupun Kabupaten Kupang.
“Festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi ruang kampanye besar untuk mengajak masyarakat hidup damai sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” ujar Buce Ga, CIS Timor.
Ketua Panitia Festival, Faslat Sabuna, mengungkapkan rasa bangga atas keberhasilan kegiatan ini.
“Kami sangat bersyukur dan bangga karena festival perdana ini berjalan dengan baik berkat kolaborasi semua pihak. Harapan kami, festival ini dapat terus berlanjut dan menjadi agenda tahunan,” ungkapnya.
Festival Pesisir Selatan 2026 meninggalkan dampak yang kuat dalam tiga aspek utama: edukasi, ekonomi, dan pelestarian budaya. Ke depan, diharapkan adanya komitmen bersama dari pemerintah dan para mitra untuk menjadikan festival ini sebagai agenda rutin yang berkelanjutan.

