Oleh :
Debbie Marleni Sodakain
Pendeta GMIT di Mollo Barat
e-Mail: dmsodakain@gmail.com
Debbie Marleni Sodakain
Pendeta GMIT di Mollo Barat
e-Mail: dmsodakain@gmail.com
Di lapangan bola voli, satu pukulan dapat mengubah sorak menjadi sunyi. Pemain mengejar bola, pelatih menahan cemas dan penonton berharap tim kesayangannya menang. Tidak ada yang salah dengan keinginan menjadi juara. Pertandingan memang membutuhkan keberanian bersaing.
Namun, ada pertanyaan yang sering kalah ramai oleh tepuk tangan: ketika satu tim pulang membawa piala, apakah semua orang masih pulang membawa rasa hormat kepada sesamanya?
Pertanyaan itu layak direnungkan melalui Turnamen Bola Voli Ebenhaezer Oefau Cup III, yang diselenggarakan Pemuda GMIT dalam rangka HUT ke-62 Jemaat Ebenhaezer Oefau di Klasis Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Pemberitaan Soe Post mencatat 27 tim, terdiri atas 19 tim putra dan delapan tim putri, dengan peserta dari sekolah, klub dan jemaat, termasuk SMA Al-Ikhlas Soe dan sejumlah jemaat GMIT (Tohana, 2026). Edisi kedua pada 2025 sebelumnya diberitakan sebagai turnamen putra (Humas Polres Timor Tengah Selatan, 2025). Keterlibatan tim putri pada edisi ketiga memperlihatkan ruang partisipasi yang lebih luas, meskipun kesetaraan kesempatan tetap perlu dinilai dari pengalaman nyata setiap peserta.
1. Lapangan Kecil, Kehidupan yang Lebih Luas
Lapangan olahraga adalah gambaran kecil kehidupan masyarakat. Ada aturan, orang yang memimpin, kebanggaan terhadap kelompok, perbedaan kepentingan serta emosi ketika keputusan tidak sesuai harapan. Perbedaannya, pertandingan mempunyai batas waktu yang jelas, sedangkan kehidupan sosial tidak.
Seorang pemain mungkin membela klub tertentu pada sore hari, lalu besok bertemu lawannya di sekolah, pasar Soe, acara keluarga, atau kegiatan kampung. Net memisahkan wilayah permainan, tetapi tidak memutus hubungan sebagai sesama warga.
Dalam kehidupan masyarakat Timor Tengah Selatan, kebanggaan terhadap kampung, sekolah, klub dan jemaat merupakan kekuatan yang dapat menggerakkan orang untuk saling mendukung.
Namun, kebanggaan itu juga perlu diuji: apakah kita masih mampu bersikap adil ketika yang diuntungkan bukan kelompok sendiri? Robert Putnam (2000) menjelaskan bahwa hubungan baik di dalam kelompok perlu diimbangi dengan hubungan yang menjembatani kepercayaan antar kelompok.
Solidaritas memberi kekuatan untuk maju bersama, tetapi tanpa penghormatan terhadap pihak lain, solidaritas dapat berubah menjadi sikap saling curiga. Lawan bertanding bukanlah musuh dalam kehidupan bermasyarakat.
Persaudaraan karena itu tidak lahir dengan sendirinya hanya karena banyak orang berkumpul. Ia tumbuh melalui pengalaman bersama ketika aturan dipahami, keputusan dijalankan secara konsisten, keberatan didengar dengan tertib dan pihak yang kalah tidak dipermalukan. Ketika orang merasa diperlakukan adil, kepercayaan lebih mudah tumbuh.
Kepercayaan mendorong mereka bersedia kembali bertanding, bertemu dan bekerja sama. Sebaliknya, aturan yang tidak jelas dapat membuka ruang bagi kecurigaan. Inilah sebabnya sportivitas tidak cukup diserahkan kepada niat baik pemain, tetapi perlu dijaga melalui cara pertandingan diselenggarakan.
2. Skor Tidak Mencatat Segalanya
Papan skor sangat teliti mencatat siapa yang menang dan kalah. Sayangnya, ia tidak memiliki kolom untuk menunjukkan siapa yang tetap jujur ketika tertekan atau siapa yang menjaga perkataan saat kecewa.
Filsuf Alasdair MacIntyre (1981) mengingatkan bahwa suatu kegiatan memiliki nilai yang tumbuh melalui cara kegiatan itu dijalankan, bukan sekadar melalui hadiah atau pengakuan.
Piala penting sebagai penghargaan atas latihan, keterampilan dan kerja keras. Namun, apabila kemenangan dianggap membenarkan segala cara, aturan tinggal menjadi hiasan yang digunakan hanya ketika menguntungkan. Kemenangan menunjukkan siapa yang unggul dalam pertandingan, tetapi tidak otomatis menunjukkan siapa yang lebih benar dalam segala tindakannya.
Sportivitas juga bukan kewajiban untuk diam ketika merasa dirugikan. Pemain berhak mempertanyakan keputusan melalui cara yang sah, sedangkan wasit harus dihormati sekaligus bekerja sesuai aturan. Pelatih semestinya membimbing, bukan memanaskan emosi.
Penonton boleh bersorak keras tanpa menjadikan hinaan sebagai bentuk dukungan. Piagam olahraga UNESCO menegaskan pentingnya keselamatan, keadilan dan tanggung jawab berbagai pihak dalam penyelenggaraan olahraga (UNESCO, 2015). Kejujuran membutuhkan karakter, keadilan membutuhkan aturan yang dipercaya dan sportivitas membutuhkan keduanya.
Di sinilah pendidikan karakter menemukan bentuknya. Ki Hadjar Dewantara (1977) menempatkan budi pekerti sebagai bagian penting pendidikan manusia. Generasi muda belajar bukan hanya dari nasihat yang didengar, tetapi juga dari perlakuan yang disaksikan. Di lapangan bertuliskan “Junjung Tinggi Sportivitas” tentu baik.
Namun, memperbesar ukuran huruf tidak otomatis membuat keputusan lebih adil. Nilai itu baru terasa ketika semua peserta diperlakukan dengan hormat, terutama pada saat hasil pertandingan tidak menyenangkan semua pihak. Sportivitas akhirnya bukan soal seberapa indah nilai diumumkan, melainkan seberapa sungguh nilai itu dijalankan.
3. Penyertaan Tuhan yang Dihidupi
Bagi gereja, persoalan ini menyentuh kesaksian iman. Paulus menggunakan gambaran seorang atlet untuk menjelaskan disiplin dan penguasaan diri (Lembaga Alkitab Indonesia, 1974, 1 Korintus 9:24–25).
Ia tidak sedang mengajarkan bahwa orang beriman harus selalu memenangkan pertandingan. Pesannya justru mengingatkan bahwa tujuan yang baik perlu diperjuangkan melalui cara yang bertanggung jawab. Doa dapat mengawali pertandingan, tetapi tidak menggantikan kejujuran ketika keputusan sulit harus diambil.
Nama Ebenhaezer mengingatkan pada pengakuan Samuel, “Sampai di sini TUHAN menolong kita” (Lembaga Alkitab Indonesia, 1974, 1 Samuel 7:12). Merayakan 62 tahun penyertaan Tuhan di lapangan kehidupan berarti mengenang pertolongan-Nya sekaligus memeriksa buah iman dalam hubungan dengan sesama.
Perjalanan panjang sebuah jemaat tentu patut disyukuri. Namun, kesaksian gereja tidak hanya terdengar dari mimbar atau tampak dalam meriahnya perayaan. Kesaksian itu juga hadir ketika kegiatan yang diselenggarakannya membuka kesempatan bagi orang-orang berbeda untuk merasa diterima, didengar dan diperlakukan secara adil.
Pengembangan Ebenhaezer Oefau Cup berikutnya tidak harus dimulai dengan program yang rumit. Aturan pertandingan perlu disampaikan secara jelas sejak awal, termasuk cara mengajukan keberatan yang disepakati bersama. Wasit perlu mendapat dukungan agar dapat bekerja secara mandiri, sedangkan pelatih, pemain dan pendukung perlu memahami tanggung jawab masing-masing.
Evaluasi setelah turnamen juga dapat menanyakan sesuatu yang jarang muncul dalam daftar pemenang: apakah peserta merasa diperlakukan secara adil dan bersedia kembali? Keterlibatan sekolah, klub, jemaat, tim putri serta pelaku usaha di sekitar kegiatan dapat terus dikembangkan menjadi hubungan kerja sama yang tidak berhenti ketika pertandingan selesai.
Di sinilah inisiatif Pemuda GMIT Ebenhaezer Oefau memperoleh makna yang lebih luas. Gereja tidak hanya menyediakan tempat untuk menentukan siapa yang paling unggul dalam permainan. Gereja juga mempunyai kesempatan memperlihatkan bahwa persaingan dapat berlangsung tanpa merusak persaudaraan dan perbedaan kepentingan dapat dikelola tanpa menghilangkan penghormatan terhadap manusia. Keberhasilan sebuah turnamen tidak hanya terlihat dari siapa yang membawa pulang kemenangan, tetapi juga dari hubungan baik yang tetap terpelihara setelah semua orang pulang.
Piala kelak disimpan di lemari dan hasil pertandingan tinggal dalam catatan. Orang-orang yang pernah saling berhadapan tetap menjadi bagian dari masyarakat yang saling membutuhkan. Di situlah arti kemenangan diuji lebih lama daripada pertandingan itu sendiri. Kita boleh bersaing sekuat tenaga dan merayakan prestasi dengan gembira, tetapi hubungan antarmanusia harus tetap lebih besar daripada hasil pertandingan.
Juara boleh berganti. Persaudaraan harus tetap terpelihara. Martabat manusia tidak boleh ikut dipertandingkan.
DAFTAR RUJUKAN
Dewantara, K. H. (1977). Karya Ki Hadjar Dewantara: Bagian pertama—Pendidikan (Cetakan ke-2). Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.
Humas Polres Timor Tengah Selatan. (2025, 17 Oktober). Hadiri penutupan open turnament bola volly putra Ebenhaezer Oefau Cup II, Kapolres TTS beri ucapan selamat kepada para pemenang. Tribrata News Polres Timor Tengah Selatan. https://tribratanewstts.com/hadiri-penutupan-open-turnament-bola-volly-putra-ebenhaezer-oefau-cup-ii-kapolres-tts-beri-ucapan-selamat-kepada-para-pemenang
Lembaga Alkitab Indonesia. (1974). Alkitab: Terjemahan Baru.
MacIntyre, A. (1981). The nature of the virtues. Hastings Center Report, 11(2), 27–34. https://doi.org/10.2307/3561072
Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.
Tohana, M. (2026, 19 Oktober). Turnamen bola volly Ebenhaezer Oefau Cup III resmi di gelar, 27 tim siap bersaing. Soe Post. https://www.soepost.com/2026/10/turnamen-bola-volly-ebenhaezer-oefau.html
UNESCO. (2015). International charter of physical education, physical activity and sport. https://www.unesco.org/en/legal-affairs/international-charter-physical-education-physical-activity-and-sport

