![]() |
| Ket Foto : Yusak M.A. Neolaka, S.Pd, (Pendidik dan Pemerhati Budaya) |
Budaya bukan sekadar warisan yang hanya disimpan dalam ingatan atau ditampilkan pada acara-acara seremonial. Budaya adalah identitas, nilai, pengetahuan, dan kearifan yang dapat membentuk karakter hidup suatu masyarakat. Di dalam budaya terkandung sejarah perjalanan leluhur, pandangan hidup, norma, serta pesan-pesan moral yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena itu, melestarikan budaya bukan hanya pilihan, melainkan tanggung jawab bersama.
Masyarakat Kabupaten Timor Tengah Selatan patut memberikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan yang telah menyelenggarakan Festival Budaya Daerah (FBD) selama tiga tahun berturut-turut. Kegiatan ini menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal kepada generasi muda, khususnya peserta didik Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
Festival Budaya Daerah tahun 2026 dipusatkan di Jalan Basuki Rahmat, tepatnya di depan Kantor BPBD Kabupaten TTS. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Bupati Timor Tengah Selatan pada 20 Oktober dan ditutup secara resmi oleh Wakil Bupati Timor Tengah Selatan pada 29 Oktober 2026 ini mengusung tema "Merawat Tradisi, Memperkuat Identitas, Membangun Generasi Kebudayaan."
Kurang lebih 200 tim dari berbagai wilayah di Kabupaten TTS turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka berkompetisi melalui sejumlah kategori, yakni Stand Up Comedy, Tarian Bonet, Tarian Ma'ekat, Tarian Telsain, dan Tari Kreasi. Setiap tim hadir dengan kemampuan, kreativitas, dan persiapan yang tidak diragukan. Pada akhirnya, peserta terbaik memperoleh penghargaan berupa plakat dan uang pembinaan.
Namun, sesungguhnya makna festival ini jauh lebih besar daripada sekadar menentukan siapa yang menjadi juara. Penghargaan merupakan bentuk apresiasi dan motivasi, tetapi pesan terpentingnya adalah bagaimana budaya yang diwariskan oleh para pendahulu tetap hidup, dikenal, dipahami, dan dilestarikan oleh generasi penerus.
Festival sebagai Ruang Menghidupkan Kembali Budaya
Kita patut bersyukur karena dalam beberapa tahun sebelumnya, kegiatan-kegiatan yang secara khusus memberikan ruang bagi ekspresi dan pelestarian budaya daerah tidak terlalu terlihat. Oleh sebab itu, kehadiran Festival Budaya Daerah menjadi angin segar sekaligus momentum untuk membangkitkan kembali perhatian masyarakat terhadap kekayaan budaya Timor Tengah Selatan.
Sebagai contoh Tarian Bonet. Bagi masyarakat Dawan (atoin meto) di Timor Tengah Selatan, Bonet bukan sekadar gerakan melingkar yang diiringi lantunan syair dan hentakan kaki. Tarian Bonet memiliki keistimewaan tersendiri. Keistimewaan Bonet terletak pada perpaduan tiga unsur: (1) Seni gerak: gerakan kaki dan tubuh secara bersama-sama dalam formasi melingkar; (2) Seni vokal: lantunan syair atau nyanyian dalam bahasa Dawan; dan (3) Seni sastra: pantun, ungkapan, dan syair yang mengandung pesan kehidupan. Tarian bonet mengajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Ketika seseorang berada dalam lingkaran bonet, ia harus mengikuti irama, menjaga gerakan, memperhatikan sesama, dan mengambil bagian dalam kebersamaan. Sebaliknya jika satu orang bergerak tanpa memperhatikan yang lain, keharmonisan lingkaran dapat terganggu. Demikian pula kehidupan bermasyarakat. Persatuan tidak dibangun oleh satu orang, tetapi oleh kesediaan setiap orang untuk saling menghargai, bekerja sama, dan menjaga kekompakan.
Demikian pula Tarian Ma'ekat dan Tarian Telsain yang memiliki kekayaan ekspresi dan nilai budaya tersendiri. Setiap tarian tradisional memiliki latar belakang, makna, serta pesan yang tidak boleh dilakonkan tanpa memahami akar budayanya.
Sekolah Jangan Hanya Bersiap Ketika Ada Perlombaan
Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian setelah penyelenggaraan festival ini adalah keberlanjutan pelestarian budaya di satuan pendidikan. Kita patut mengapresiasi sekolah-sekolah yang telah mengirimkan peserta dan mempersiapkan anak-anak untuk mengikuti berbagai perlombaan. Namun, pelestarian budaya tidak boleh berhenti setelah panggung festival dibongkar dan piala dibawa pulang oleh para pemenang.
Sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mempersiapkan peserta lomba. Budaya daerah perlu menjadi bagian dari proses pendidikan, salah satunya melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, peserta didik mempunyai kesempatan untuk belajar, berlatih, memahami, dan mengembangkan kemampuan budaya secara berkelanjutan.
Sekolah juga perlu membangun kerja sama dengan tokoh adat, budayawan, seniman tradisional, dan para pelaku budaya yang benar-benar memahami tradisi daerah. Kehadiran narasumber yang memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung sangat penting agar anak-anak memperoleh pemahaman yang benar tentang asal-usul, gerakan, syair, filosofi, serta nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ekspresi budaya.
Hal ini perlu mendapat perhatian serius. Jangan sampai anak-anak hanya belajar meniru gerakan tanpa memahami maknanya. Jangan pula sampai terjadi perubahan yang justru menghilangkan keaslian suatu tradisi karena kurangnya pemahaman terhadap sumber budaya tersebut.
Dalam konteks ini, sekolah perlu membedakan antara upaya mempertahankan keaslian budaya tradisional dan ruang kreativitas dalam seni kreasi. Untuk tarian tradisional, keaslian nilai dan unsur pokok budaya perlu dijaga. Sementara itu, tari kreasi dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas dengan tetap menghormati akar budaya daerah.
Generasi Muda di Tengah Arus Budaya Luar
Kita tidak dapat menutup mata bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa berbagai pengaruh budaya dari luar ke dalam kehidupan generasi muda. Melalui telepon genggam dan media sosial, anak-anak dapat dengan mudah mengenal berbagai jenis musik, tarian, gaya berpakaian, bahasa, dan pola hidup dari berbagai belahan dunia.
Mengenal budaya luar bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan, keterbukaan
terhadap perkembangan zaman merupakan bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Namun, persoalannya muncul ketika generasi muda lebih mengagumi budaya luar,
sementara budaya sendiri justru semakin asing bagi mereka.
Jangan sampai seorang anak lebih mengenal tarian yang sedang viral di
media sosial daripada tarian tradisional daerahnya sendiri. Jangan sampai
mereka mampu menghafal syair lagu populer, tetapi tidak lagi mengenal
syair-syair tradisional yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan orang tua dan
leluhurnya.
Hal ini tidak bermaksud untuk mengajak generasi muda menolak kemajuan. Sebaliknya, kita ingin mereka bertumbuh menjadi generasi yang terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap memiliki akar identitas yang kuat. Sebab, kemajuan tanpa identitas dapat membuat suatu generasi kehilangan jati dirinya.
Pelestarian Budaya adalah Tanggung Jawab Bersama
Pelestarian budaya tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau sekolah. Pemerintah memang memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebijakan, program, ruang pertunjukan, pembinaan, dan dukungan anggaran. Namun, keberlanjutannya sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat.
Orang tua memiliki peran penting memperkenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Tokoh adat dan para budayawan memiliki peran untuk mewariskan pengetahuan serta nilai-nilai tradisional kepada generasi penerus. Sekolah harus memberikan ruang pembelajaran dan pengembangan budaya, sedangkan generasi muda perlu memiliki kemauan untuk belajar, mengenal, dan mencintai warisan leluhurnya.
Selain itu, festival budaya perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Jika tahun ini kegiatan memasuki tahun ketiga, maka ke depan penyelenggaraannya perlu semakin diperluas agar lebih banyak sekolah di wilayah di Kabupaten Timor Tengah Selatan memperoleh kesempatan berpartisipasi.
Kurang lebih 200 tim yang terlibat tahun ini merupakan capaian yang patut diapresiasi. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah satuan pendidikan yang ada di Kabupaten TTS, keterlibatan sekolah masih perlu diperluas. Artinya, festival ini harus menjadi gerakan kebudayaan yang semakin inklusif, bukan hanya kegiatan tahunan yang diikuti oleh sekolah-sekolah tertentu. Tentunya ini menjadi catatan evaluasi bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan sebagai penanggung jawab dan penyelenggara kegiatan.
Pemerintah juga dapat mempertimbangkan pembinaan berkelanjutan bagi
sekolah, pendokumentasian tarian dan syair tradisional, serta pelibatan
generasi muda dalam kegiatan kebudayaan di tingkat kecamatan maupun desa.
Dengan demikian, kekayaan budaya Timor Tengah Selatan tidak hanya dipentaskan,
tetapi juga dicatat, dipelajari, dan diwariskan.
Jangan Biarkan Warisan Leluhur Berhenti pada Satu Generasi
Pada akhirnya, keberhasilan Festival Budaya Daerah tidak semata-mata
diukur dari jumlah peserta, kemeriahan panggung, atau banyaknya penghargaan
yang diberikan. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah apakah setelah
festival selesai, anak-anak semakin mengenal budayanya, sekolah semakin serius
mengembangkan kegiatan kebudayaan, dan masyarakat semakin menyadari pentingnya
menjaga warisan leluhur.
Kepada anak-anak yang memperoleh juara, teruslah berlatih dan jangan
cepat berpuas diri. Sementara itu, bagi peserta yang belum memperoleh juara,
jangan berkecil hati. Kalian telah menjadi bagian dari upaya merawat kebudayaan
daerah. Dalam urusan pelestarian budaya, semua peserta sesungguhnya adalah
pemenang karena telah mengambil bagian dalam menjaga warisan leluhur.
Kita juga perlu menyadari bahwa suatu budaya dapat kehilangan maknanya
bukan hanya karena ditinggalkan, tetapi juga ketika diwariskan tanpa pemahaman
yang benar. Karena itu, tugas kita bukan sekadar mempertahankan bentuk
pertunjukannya, melainkan memastikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
tetap hidup.
Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, khususnya
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang telah
menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengekspresikan
kekayaan budaya daerah. Kiranya kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda
tahunan, tetapi terus berkembang menjadi gerakan bersama dalam membangun
generasi yang berbudaya.
Sebab, warisan budaya bukan milik satu generasi saja. Ia adalah titipan
dari para pendahulu untuk dijaga oleh generasi sekarang dan diteruskan kepada
generasi yang akan datang.
Kita boleh mewariskan banyak hal kepada anak-anak, tetapi jangan sampai kita gagal mewariskan identitas dan kebudayaan yang membuat mereka mengenal siapa dirinya dan dari mana mereka berasal.**

