Di Ujung Kampung, Cinta Belajar Mengeja


Oleh : Lefinus Asbanu, S.Pd, (Jurnalis, Pegiat dan Penggerak Literasi Daerah)

Jalan tanah itu berakhir tanpa penjelasan, seperti kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung. Setelahnya hanya bukit batu yang diam, padang yang menguning, dan angin yang datang membawa bunyi-bunyi kecil yang sulit dikenali asalnya.

Yabes mematikan mesin motor.

Suara yang tersisa hanyalah napasnya sendiri dan gesekan daun kering di kejauhan. Ia menurunkan kardus buku dengan hati-hati, seolah apa yang dibawanya bukan sekadar kertas, melainkan sesuatu yang lebih rapuh, kemungkinan.

Di tempat seperti ini, pikirnya, segala sesuatu terasa lebih jujur karena tidak banyak yang bisa disembunyikan.

Anak-anak mulai berdatangan, duduk dengan jarak yang wajar, seperti orang-orang yang belum sepenuhnya percaya pada sesuatu yang baru.

Saat itulah ia melihatnya.

Seorang gadis berdiri di dekat pagar bambu, memegang buku yang sampulnya pudar. Cara ia berdiri sedikit condong ke depan, seakan mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar, membuat Yabes tiba-tiba merasa sedang dihadapkan pada pertanyaan yang belum sempat ia pahami.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada yang berubah secara kasatmata, tetapi di dalam dirinya seperti ada sesuatu yang bergeser pelan, hampir tak terasa, namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa hari itu tidak akan sama dengan hari-hari sebelumnya.

Namanya Vero.

Ia datang paling awal dan pulang paling akhir. Ketika membaca, suaranya hampir tenggelam oleh angin, tetapi Yabes selalu dapat menangkapnya, seperti seseorang yang tanpa sadar mencari satu nada tertentu di tengah banyak bunyi.

Suatu siang, Yabes menulis satu kata di papan.

“Harapan.”

Anak-anak mengeja bersama.

Vero mengikuti lebih lambat. “Ha… ra… pan.”

Yabes tiba-tiba merasa bahwa suara itu bukan sekadar bunyi huruf, melainkan sesuatu yang sedang mencari tempat untuk tinggal.

Ia tidak mengerti mengapa ia menunggu momen itu setiap hari.

Hari-hari di kampung berjalan seperti waktu yang berjalan di dalam ingatan, tidak tergesa, tidak juga benar-benar berhenti.

Kadang Yabes duduk di bawah naungan sederhana sambil memperhatikan anak-anak membaca. Kadang ia hanya berjalan menyusuri jalan kecil tanpa tujuan jelas, membiarkan pikirannya berkelana.

Ia mulai menyadari sesuatu yang membuatnya gelisah: ada bagian dari dirinya yang ingin memperlambat waktu.

Ia tahu perasaan itu berbahaya.

Perjalanan selalu berarti meninggalkan.

Namun setiap kali melihat Vero mengeja kata dengan kesabaran yang sunyi, ia merasakan keinginan yang jarang muncul selama bertahun-tahun, keinginan untuk tinggal lebih lama daripada yang seharusnya.

Suatu sore mereka duduk berdua, memandang ladang yang bergoyang oleh angin.

Menurutmu,” tanya Vero tiba-tiba, “mengapa orang suka membaca?”

Yabes berpikir sejenak.

Mungkin karena membaca membuat kita tahu bahwa kita tidak sendirian,” katanya.

Vero mengangguk pelan, seolah menyimpan jawaban itu di suatu tempat yang tidak mudah dijangkau.

Yabes ingin mengatakan bahwa akhir-akhir ini ia merasakan hal yang sama, tetapi tentang seseorang, bukan tentang buku namun kata-kata itu tidak pernah benar-benar keluar.

Malam datang dengan sunyi yang panjang.

Yabes berbaring, memandangi langit-langit, menyadari bahwa ia mulai takut pada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan: kemungkinan untuk merasa kehilangan.

Ia mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah bagian dari perjalanan.

Tetapi di dalam dirinya, sebuah kesadaran pelan muncul, bahwa mungkin selama ini ia hanya berpindah tempat untuk menghindari sesuatu yang tidak pernah ia beri nama.

Dan kini, di ujung kampung ini, sesuatu itu perlahan meminta untuk diakui.

Ketika kabar keberangkatan datang, Yabes menerimanya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Seperti membaca halaman terakhir sebelum siap menutup buku.

Sore itu, ia menemui Vero.

Angin bergerak di antara batang padi, menciptakan suara yang menyerupai bisikan panjang.

Aku akan pergi,” katanya.

Vero tidak tampak terkejut.

Semua orang selalu pergi,” katanya pelan.

Yabes merasakan sesuatu yang menekan dadanya.

Aku belajar banyak di sini,” katanya. “Bukan hanya tentang mengajar.”

Vero menatapnya.

Tentang apa? seolah pertanyaan itu melintas tanpa perlu diucapkan.

Yabes menarik napas.

Belajar mengeja sesuatu yang tidak pernah diajarkan.”

Vero tersenyum kecil, senyum yang mengandung pengertian sekaligus jarak.

Mungkin,” katanya, “beberapa hal memang hanya bisa dipelajari dengan merasakannya.”

Pagi keberangkatan datang tanpa upacara.

Anak-anak melambaikan tangan.

Vero menyerahkan sebuah buku tipis.

Yabes membuka halaman pertama.

Tulisan tangan yang rapi:

Tidak semua kata perlu selesai dibaca. Ada yang cukup dipahami dari cara kita mengingatnya.

Yabes menutup buku itu perlahan.

Ia menyadari bahwa di dalam dirinya ada sesuatu yang berubah secara permanen, bukan karena kehilangan, tetapi karena pernah mengerti.

Motor bergerak meninggalkan kampung.

Jalan tanah memanjang di depan, sederhana seperti sebelumnya.

Namun jauh di dalam pikirannya, Yabes tahu bahwa perjalanan bukan lagi sekadar berpindah tempat.

Ia mengerti sekarang bahwa cinta tidak selalu meminta untuk dimiliki.

Kadang ia datang hanya untuk mengajarkan cara membaca dunia dengan lebih pelan, huruf demi huruf, sampai kita sadar bahwa yang berubah bukan jarak, melainkan cara kita memahami arti pertemuan.

Angin berhembus dari belakang, membawa bau tanah dan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Yabes tidak menoleh.

Tetapi di suatu tempat yang tidak bisa dilihat, ia tahu: di ujung kampung itu, hatinya pernah belajar mengeja dan mungkin akan terus mengingat bunyinya, bahkan ketika kata-katanya sudah lama berlalu.

Ketika pulang, ia menemukan sebutir debu kapur masih menempel di lipatan buku catatannya. Yabes tersenyum tipis. Di ujung kampung itu, cinta rupanya tak hanya belajar mengeja, ia juga meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2020 soepost.com ™ Member Of Kupang Online Network ®