Kota SoE||Soepost.com,- Tak ada yang benar-benar siap ketika sebuah sekolah kecil dari pelosok Timor Tengah Selatan tiba-tiba berbicara di panggung nasional. Dari ruang kelas sederhana di SD Inpres Taubneno, lahir dua nama yang kini masuk dalam daftar nomine 100 penulis terbaik Indonesia, sebuah capaian yang tak hanya mengejutkan, tetapi juga menggugah kesadaran tentang potensi besar yang selama ini tersembunyi di daerah.
Adalah Citra Olivia Tobe, seorang siswi sekolah dasar, yang menuliskan kisahnya dalam karya berjudul “Dari Takut Menjadi Terang : Perjalanan Mimpiku Menjadi Guru.” Di sisi lain, gurunya, Fransina A. Lakapu, S.Pd., Gr., merangkai refleksi dalam tulisan berjudul “Menenun Harapan di Tengah Perbedaan.”
Dua tulisan ini mengantarkan mereka menembus daftar nomine 100 penulis terbaik tingkat nasional dalam program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional yang digagas oleh Nyalanesia.
Bagi Fransina, yang juga menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Sekolah, capaian ini adalah sesuatu yang jauh melampaui bayangan awal.
“Awalnya kami hanya ingin membangun kebiasaan menulis di lingkungan sekolah. Supaya guru dan anak-anak punya ruang untuk bercerita dan mengekspresikan diri. Tidak pernah terbayang bisa sampai ke tingkat nasional,” tuturnya saat dijumpai di ruang kerjanya, Kamis (30 April 2026).
Langkah kecil itu perlahan tumbuh menjadi gerakan nyata. Karya-karya guru dan siswa kemudian dibukukan dalam sebuah antologi berjudul “Menulis Mimpi, Merajut Harapan.” Di dalamnya termuat 50 karya peserta didik dan 5 karya guru, sebuah potret jujur tentang mimpi, pengalaman, dan harapan dari ruang-ruang belajar sederhana.
Menulis, bagi mereka, bukan sekadar tugas, melainkan proses belajar yang utuh.
“Ketika anak-anak menulis, mereka terdorong untuk membaca. Mereka mencari referensi, mengolah ide, dan menyusunnya kembali dalam tulisan. Di situlah nalar mereka terbentuk,” jelas Fransina.
Namun di balik capaian tersebut, tersimpan realitas yang cukup kontras.
Gerakan literasi menulis di tingkat sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan masih tergolong sangat terbatas. Dari ratusan sekolah yang ada, baru segelintir yang benar-benar menjadikan menulis sebagai budaya belajar.
Selain SD Inpres Taubneno, satu sekolah lain yang telah menunjukkan langkah serupa adalah SD GMIT Soe II, yang juga berhasil menghasilkan antologi cerita pengalaman pribadi.
Di tengah keterbatasan itu, capaian ini justru menjadi penanda penting: bahwa kualitas tidak ditentukan oleh letak geografis, tetapi oleh keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertumbuh.
Perjalanan ini pun belum berhenti. Kedua penulis dari Taubneno tersebut dijadwalkan akan menerima penganugerahan dalam Festival Literasi Nasional yang akan digelar di Surakarta pada 22–23 Mei 2026.
Sebuah panggung yang lebih luas menanti, namun bagi mereka, kemenangan sejati telah dimulai sejak hari pertama mereka berani menulis.
Catatan Pegiat Literasi (Nyalanesia) Kabupaten Timor Tengah Selatan
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan oleh Lefinus Asbanu, S.Pd., penggerak literasi daerah Nyalanesia sekaligus jurnalis, capaian ini tidak hanya menjadi prestasi individual, tetapi juga menggambarkan kondisi literasi di tingkat sekolah dasar di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Dari sekitar 545 Sekolah Dasar yang ada, baru dua sekolah yang secara aktif dan konsisten mendorong budaya menulis, yakni SD Inpres Taubneno dan SD GMIT Soe II. Kedua sekolah tersebut telah menghasilkan karya nyata berupa antologi cerita pengalaman pribadi sebagai bagian dari penguatan literasi di lingkungan sekolah.
Temuan ini menunjukkan bahwa menulis memiliki peran strategis dalam mendorong minat baca peserta didik. Dalam proses menulis, siswa terdorong untuk mencari referensi, memahami isi bacaan, serta mengolahnya menjadi gagasan yang utuh.
Lebih jauh, kemampuan memahami bacaan dinilai dapat diukur secara lebih konkret melalui tulisan, karena menulis menuntut proses berpikir, analisis, dan penyusunan ide secara sistematis.
Oleh karena itu, gerakan literasi, khususnya dalam aspek menulis, dinilai masih perlu diperluas dan diperkuat agar dapat menjangkau lebih banyak sekolah serta menjadi bagian dari budaya belajar yang berkelanjutan di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

