Editor Redaksi
Panite||Soepost.com,- Pendeta Lukas Koebanu Sabtu 02 Mei Tahun 2026, akhirnya angkat bicara terkait kejadian dugaan keracunan makanan bergizi gratis yang dialami puluhan peserta didik di Kecamatan Amanuban Selatan dan sangat menyita perhatian publik.
Menurut Pendeta Lukas Koebanu yang juga salah satu Tokoh Agama di Kecamatan Amanuban Selatan, Program Makan Bergizi Gratis merupakan program yang baik, tetapi yang mengelola ini yang kurang baik.
"Program Makan Bergizi Gratis merupakan program yang baik, tetapi menurut saya yang mengelola program tersebut yang kurang baik." Ucap Lukas Koebanu
"Saya berharap, untuk saat ini dihentikan dulu dan wajib evaluasi pengelola dan pengurus. Kalau bisa program ini dikembalikan ke pihak sekolah saja, biar pengelolaan itu lebih efektif. Kalau pihak sekolah yang kelola pasti libatkan orang tua kandung dari para siswa yang pasti itu mengelola dan sudah pasti ada dampak positif.",
Pendeta Lukas Koebanu juga curiga karena jumlah siswa yang banyak dan hanya satu dapur yang melayani MBG bisa saja makanan MBH sudah di masak satu hari sebelum di kasih ke anak-anak.
"Karena jumlah siswa yang dilayani banyak dan baru satu dapur yang melakukan pelayanan, saya curiga makanan yang diberikan kepada anak-anak bisa saja sudah di masak satu hari sebelumnya baru di kasih ke anak-anak." Ucap Pendeta Lukas Koebanu
Lukas Koebanu juga mencontohkan, "Kalau misalnya mereka masak jam 23.00 WITA lalu besok Jam 11.00 WITA baru di kasih ke anak-anak pastinya makanan tersebut bisa saja bermasalah dan tidak tertutup kemungkinan jadi racun untuk anak-anak.",
"Untuk itu saya berharap sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium keluar, harus ada evaluasi total bagi pengurus, management dan semua yang terlibat sampai kejadian tersebut bisa terjadi."
"Selain itu, sebenarnya kita harusnya belajar dari kejadian pertama keracunan MBG terjadi di kota soe, harusnya menJadi barometer untuk adanya evaluasi dan peningkatan pengawasan, setelah itu baru ditindaklanjuti pelaksanaan di kecamatan.",
"Ini kan, kejadian yang sudah berulang. Atau, apakah kita tunggu sampai ada korban jiwa? Sehingga ini harus menjadi perhatian serius karena menyangkut nyawa anak-anak kita." Pungkas Pendeta Lukas Koebanu

